Resensi: Represi - Fakhrisina Amalia


Represi

"Kita semua nggak tahu rasanya jatuh cinta dan sakit sebelum mengalaminya sendiri, Anna." - Nabila.

oleh Fakhrisina Amalia

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads
Judul : Represi
Penulis : Fakhrisina Amalia
Genre : Young Adult
Editor : Tri Saputri Sakti
Proofreader : Tisya Rahmanti
Ilustrasi sampul : Orkha Creative
Tahun terbit : 2018
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 264 halaman
ISBN : 9786020611945
Awalnya hidup Anna berjalan baik-baik saja.
Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, gadis itu punya seorang ibu dan para sahabat yang setia. Sejak SMA, para sahabatnya yang mendampingi Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri.
Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan Anna dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ternyata penuh luka.


Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Represi. Awalnya, saya tidak berekspektasi apa-apa terhadap novel yang satu ini. Pertama kali menemukan novel ini di Gramedi Digital, saya berharap bisa menemukan bacaan ringan. Toh, saya memang sedang mengalami reading slumps kala itu. Ternyata, apa yang saya temukan, tidak seperti dugaan saya di awal. Novel ini cukup kompleks dan tidak seringan yang saya kira.

Apakah kamu pernah merasakan keinginan untuk mati? Keinginan untuk mengakhiri hidupmu karena kamu merasa sudah tidak berguna lagi?
Anna baru saja pulih dari percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Meskipun begitu, Anna tahu bahwa dirinya masih tidak baik-baik saja. Dia belum terbiasa untuk menjalani hidupnya kembali. Bagaimanapun, Anna merasa dirinya adalah sosok yang telah tidak berguna. 

Image credit: pixabay, edited by me
Pada mulanya, Anna adalah gadis yang biasa-biasa saja. Dalam artian, dia memang bukan gadis populer, tapi Anna punya empat sahabat yang selalu mendengarkan dirinya. Saka, Ouji, Nika, dan Hani. Keempat sahabat Anna tersebut selalu mendukung seluruh keputusan Anna. Bahkan, Saka adalah salah satu sahabat Anna yang sangat peduli pada Anna. Saka pernah memberi Anna seekor kucing yang dinamai Serafina. Hewan berkaki empat itu menjadi hewan kesayangan Anna. Saka selalu membantu Anna dalam merawat Serafina.

"Bersahabat tidak berarti harus selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang-kadang bersahabat adalah tentang saling menjaga dan mendukung ketika jauh. Bersahabat adalah tentang tetap bisa bertemu tanpa canggung dan seperti tidak pernah berjauhan. Bersahabat itu soal hati, bukan soal fisik." Anna.
Sampai kemudian, munculah Sky. Teman basket pacar Nika yang menyedot seluruh perhatian Anna. Cowok itu berhasil membuat Anna benar-benar terfokus padanya. Seolah-olah, hidup dan mati Anna berpusat pada sosok Sky. Sejak saat itulah, dunia Anna berubah. Bahkan, seratus delapan puluh derajat. Anna semakin sering absen ketika ada kumpul-kumpul bersama sahabatnya. Bahkan, Anna juga berbohong kepada ibunya--hal yang sebelumnya tidak pernah Anna lakukan. Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu, mengapa sekarang Anna begitu trauma akan nama Sky di telinganya?

"Kita semua nggak tahu rasanya jatuh cinta dan sakit sebelum mengalaminya sendiri, Anna." Nabila.

***

Novel ini menceritakan kehidupan Anna pasca percobaan bunuh diri yang ia lakukan. Menggunakan alur flashback, penulis mencoba untuk mengungkap kehidupan Anna jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Jujur saja, saya cukup terkejut dengan bongkahan es yang disembunyikan Anna dari teman-teman terdekatnya. Saya memang bisa menduga ada hal buruk yang terjadi di antara Sky dan Anna, tapi saya tidak menyangka akan ada hal lain yang terungkap selain kejadian tersebut.

Kenapa dia tidak boleh menangis? Kenapa dia harus kuat untuk bisa menjadi anak Ibu dan Ayah? Kenapa tidak pernah sekali saja orangtuanya menerima tangisannya tanpa mengatakan apa pun jika mereka tidak bisa memberikan kalimat penghiburan yang lebih baik? -Anna.
Saya tahu, saya memang tidak pernah merasakan dorongan kuat untuk bunuh diri seperti yang Anna rasakan, akan tetapi, saya tahu orang lain pasti pernah merasakannya. Perasaan bahwa kita tidak bisa apa-apa. Bahwa kita tidak lagi berguna karena kejadian-kejadian traumatis di masa lalu. Pastinya, hal tersebut tidaklah mudah. Oh, ayolah. Sebuah keinginan untuk melupakan seseorang di masa lalu saja sulit untuk dilakukan, bagaimana dengan melupakan kejadian traumatis yang terus terbayang?

"Hubungan dua orang nggak cuma tentang menyenangkan hati orang lain tanpa memedulikan diri sendiri." - Saka.
"Luka yang nggak dibagi, sampai kapan pun, nggak akan pernah bisa dimengerti." - Nabila. 
Jujur, saya agak sedikit bosan ketika membaca Represi. Meskipun, saya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan Anna. Mungkin, karena saya belum punya mood membaca yang begitu baik. Alhasil, demikianlah jadinya. Akan tetapi, saya menyukai ide yang Fakhrisina bawa. Saya rasa, membahas mental health dalam novel young adult bukanlah pekerjaan yang mudah. Bagaimanapun, Fakhrisina harus mencoba untuk mengupas isu ini dalam bahasa yang sesuai dengan para pembaca.

Kalau ditanya siapa tokoh yang sukai, saya akan menjawab itu adalah Nabila. Psikolog yang membantu kesembuhan Anna. Sosok yang begitu tenang dan bisa memahami pasiennya. Yes, I know that's her duty, but, she's just a wise person after all. Untuk tokoh Anna sendiri, saya punya love-hate feeling terhadapnya. Saya kadang kesal ketika membaca kisah masa lalu Anna dan Sky. Anna ini terlalu penurut dan Sky, well, he is a bastard. Enough said. Cukup menyebalkan tentunya ketika membaca tentang hubungan yang toxic seperti itu.

"Jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri. Kecemasan adalah sesuatu yang membuat dirimu bekerja keras dan menderita dua kali lipat." - Nabila.
Dengan segala kekompleksannya, saya rasa, novel ini patut dibaca. Apalagi kalau kamu mencoba mencari bacaan yang berhubungan dengan mental health. Novel ini tentunya dapat menjadi pilihan yang pas.

3 bintang untuk Serafina, kucing Anna yang sangat lucu dan menggemaskan.

Sincerely, 
Puji P. Rahayu

Resensi: Sing Me Home - Emma Grace


Sing Me Home

Hati mengerti siapa yang mereka izinkan tinggal di sana. Seperti hati juga mengerti siapa yang tidak dapat menetap, walaupun orang itu sudah berusaha keras.

oleh Emma Grace

2.5 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul buku : Sing Me Home
Penulis : Emma Grace
Genre : Romance
Kategori : Young adult
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : 2016
Tebal buku : 272 halaman
ISBN : 978-602-03-3571-1
Baca via Gramedia Digital


Selain menghadapi ibu yang tidak setuju dirinya menjadi penari, Gwen juga harus menerima fakta yang lebih menyakitkan: Hugo, cowok yang selama ini dekat dengannya, ternyata memilih gadis lain. Gwen sadar ia mesti mempertahankan impiannya menjadi penari profesional, meski masih patah hati.
Di tengah situasi itu, Gwen harus mengikuti audisi tari yang sangat penting. Dan di sana, ia bertemu Jared mengabadikan tariannya dalam selembar foto. Sejak itu, nyaris tiap kali, Jared menemaninya latihan tari. Cowok itu memasuki hidup Gwen, dan hidup Gwen tenang kembali.
Namun, bagaimana kalau jauh di dalam hati Gwen, Jared hanyalah pengganti Hugo? Bahwa Hugo-lah yang sebenarnya ia inginkan?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Sing Me Home merupakan salah satu novel yang saya baca karena saya tertarik dengan sampul bukunya. Baiklah. Tidak seharusnya saya menilai sebuah novel dari sampulnya saja. Saya masih ingat kok, kalau pada dasarnya kita tidak bisa judge a book from its cover. But, I couldn't help. Sing Me Home's cover is really attractive. I like the concept and the illustration. 

Okay, then. Let's move to my review. Sing Me Home merupakan novel young adult yang ditulis oleh Emma Grace. Jujur, saya belum pernah membaca karangan Emma sebelumnya. Pun, saya juga tidak memiliki ekspektasi apa-apa terhadap novel ini.

Gwen adalah seorang penari. Ia mencintai tari dengan sepenuh hidupnya. Permasalahannya, orang tua Gwen, terutama mamanya, tidak menyetujui keinginan Gwen untuk menjadikan tari sebagai tujuan hidupnya. Hal ini membuat Gwen yang tidak terima dengan keputusan mamanya, melakukan berbagai cara untuk bisa menari dan mengikuti audisi untuk performing arts school, termasuk diam-diam mengikuti audisi yang sudah diusahakan oleh pelatihnya, Savannah.

Kau tahu perasaan paling indah di dunia, Sav?"
"Ya?"
"Ketika kau menari dengan kakimu, dengan lantunan musik indah mengiringimu. Saat kau membiarkan semuanya, di dalam dan di luar dirimu menguap. Semua hal, kecuali tarianmu sendiri."
-- Gwen dan Savannah

Selain permasalahan dengan orang tuanya, kehidupan Gwen juga dibayangi oleh sosok laki-laki yang sulit untuk Gwen lupakan, Hugo. Laki-laki itu pernah menjadi bagian dari hidup Gwen dan membuat Gwen merasa sangat berarti. Sayangnya, kedatangan Corrine membuat semua hal itu berubah.

Di tengah kebimbangan dan rasa sesak yang Gwen rasakan, munculah Jared, seorang fotografer yang suka memotret Gwen ketika menari. Lalu, bagaimana akhir kisah Gwen? Apakah dia akan tetap menari? Ataukah ia menyerah atas keinginan orang tuanya? Lalu, pada hati siapakah hati Gwen akan berlabuh?

"Aku tak pernah tahu kamu memperhatikan setiap hal dengan detail.""Memang tidak. Tidak setiap hal. Aku memperhatikanmu"
-- Gwen dan Jared
Sing-Me-Home-Emma-Grace
image credit: wallpaper-house.com, edited by me.

Well, I have to admit that this kind of story is kinda cliche. Even, I can sense the main story of it from the beginning. Akan tetapi, bukan berarti seluruh bagian dari novel ini dapat begitu saja ditebak. Ada bagian, terutama alasan kerasa Mama melarang Gwen menari, yang membuat saya cukup terkejut dan menggumamkan 'oh' pelan.

Kalau menurut saya, pada dasarnya novel ini mengajarkan pembaca untuk tetap berusaha menggapai mimpinya. Satu hal yang positif memang. Saya pun menyetujui premis yang dibawakan oleh Emma Grace, despite I never read her work before. 

Akan tetapi, lagi-lagi bukan berarti saya bisa menyukai karakter-karakter yang ada. Bagi saya, Gwen merupakan sosok yang cukup menyebalkan. Oke, saya memang menghargai kegigihannya, tapi, sisi egois Gwen membuat saya memutar bola mata. 

Kemudian, sosok Jared di sini seolah dibuat menjadi karakter yang 'seharusnya' tidak disukai. Padahal, menurut saya sosok Gwen lah yang membuat Jared seperti tersangka. Heuf. Saya tak tahu harus berkomentar apa.

"Tenang saja, Gwen. Kamu tak harus menjawab atau melakukan apa pun. Aku hanya ingin menjelaskan apa yang kurasakan padamu. Aku hanya ingin kamu tahu kenapa aku memberikan buku itu."
-- Jared
Jangan menghancurkan hati orang lain, Gwen. Melarikan perasaanmu pada orang yang tidak tepat bukanlah jalan keluar. Cepat atau lambat kamu sendiri akan merasa terpenjara. Pada akhirnya kamu harus mencintai orang itu untuk bisa berbahagia."
-- Hanna
Kemudian, ada satu bagian lagi yang membuat saya mengernyitkan kening. Intinya, Corrine akan dibawa ke Kalimantan untuk mendapatkan penyembuhan. Hmm.. have I read it wrong? Bukannya saya merendahkan, hanya saja.. saya tahu Kalimantan merupakan daerah di Indonesia yang membutuhkan pembangunan. Dan saya tahu hal tersebut tidak mudah. Kalimantan punya pekerjaan rumah yang sangat besar. Jadi, I'm a little bit rolling my eyes when the author write that. I think it's more make sense if she intend to make Corrine goes to Singapore for better medication. But, if I'm wrong about this, just correct me.

Jadi, pada intinya, Sing Me Home merupakan jenis novel yang mudah dicerna. Apalagi karena memang termasuk young adult novel. Hanya saja, saya tidak bisa membuat diri saya jatuh cinta pada karakter yang ada.
"Cita-cita bukanlah sekadar cita-cita. Mereka mendefinisikan siapa dirimu yang sesungguhnya."
-- Ms. Lockhart
2.5 bintang untuk Hanna, sahabat Gwen yang menurut saya masih waras.

Best regards,
Puji P. Rahayu.

Review: Charlie and The Chocolate Factory - Roald Dahl


Charlie and the Chocolate Factory
"Oh, how he loved that smell! And oh, how he wished he could go inside the factory and see what it was like!"

by Roald Dahl

4 of 5 stars


image credit: goodreads.com
Title: Charlie and the Chocolate Factory
Author: Roald Dahl
Genre: Fantasy, children book
Series: Charlie Bucket #1
Illustrator: Quentin Blake
Publisher: Puffin Books, Penguin Group
ISBN: 978-0-141-96061-6
Year of publish: 2010
Number of pages: 271

Willy Wonka's famous chocolate factory is opening at last!

But only five lucky children will be allowed inside. And the winners are: Augustus Gloop, an enormously fat boy whose hobby is eating; Veruca Salt, a spoiled-rotten brat whose parents are wrapped around her little finger; Violet Beauregarde, a dim-witted gum-chewer with the fastest jaws around; Mike Teavee, a toy pistol-toting gangster-in-training who is obsessed with television; and Charlie Bucket, Our Hero, a boy who is honest and kind, brave and true, and good and ready for the wildest time of his life!

More info:

Like I said before, children book was a kind of book that I like the most. The reason was, because children book was a type of light reading, and no need more effort to finish it. Well, actually, Roald Dahl's book have been on my reading list since.. I didn't know.. maybe one year ago? Sadly, I didn't have much chance to read it but now. I found this epub at one of telegram channel that I subscribed. Then, I felt lucky cause finally I can read it.

"You never know, darling. It's your birthday next week. You have as much chance as anybody else."
-- Grandma Georgina
So, if you read about Charlie and the Chocolate Factory, I won't blame you if you did comparison with the movie. Yeah, you will picture Johny Depp as Willy Wonka. To be honest, I did that too when I read this book.

Just like at the movie, the story began when Willy Wonka decided to open his factory for five lucky children who got golden ticket on their chocolate bar. Charlie is a boy from a very poor family. Buying chocolate was something that really precious for Charlie, because he could only get it once per year, and it's on his birthday. Everyone, start from Charlie then his parent and grand parents, hope that Charlie could get the chance to enter Wonka's Chocolate Factory. So, even though they can't expect too much from one chocolate bar, all of them wish Charlie could get that golden ticket. Long story short, after so many drama here and there, finally Charlie can get that golden ticket. Yeay!

"He spoils her. And no good can ever come from spoiling a child like that, Charlie, you mark my words."
-- Grandpa Joe.
How about the other four? Okay.. Let's see.. when I read this book, I don't know why but I was starting remember the seven deadly sins. There's Augustus Gloop who's really like to eat. Like there's no tomorrow if he can't eat now. So, yeah, I think Augustus stands for gluttony. Next, Veruca Salt. Veruca is a type of girl who want anything. Because her parent spoiled her so much, Veruca thought that he can get anything she want. That's why, her attitude makes me remember about the greed sin. Then, there's Violet Beauregarde. I thought, Violet stands for pride because she was really enjoying showing off her talent--event the disgusting one. The last, a boy who's named Mike Teeves. He really like watching television and I thought he was part of sloth sin. Okay, I know that it shouldn't be like that. But, I just remember about that sin when I read it.
"Are the Oompa-Loompas really joking, Grandpa?"
"Of course they're joking. They
must be joking. At least, I hope they're joking. Don't you?"
-- Charlie and Grandpa Joe
In my opinion, children book is a simple story that can give you many moral values. Road Dahl was succeed bring many moral values with the story of Charlie. Then, if you asked about the movie adaptation, hmm, it wasn't much different actually. But, maybe there was some differences here and there. But so far, I enjoyed reading this book. Moreover, the illustration from Quentin Blake was match with the story. I like it.
"How can they see where they're going?"
"There's no knowing where they're going!"
-- Violet Beauregarde and Mr. Willy Wonka
So, if you wanna have some nostalgic memory about your childhood, Charlie and the Chocolate Factory could be your choice. 

4 stars for Charlie :)

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Resensi: Love Theft - Prisca Primasari


Love Theft
"Saya harus pulang. Bukankah itu tujuan kita pergi? Untuk pulang." -- Night.

oleh Prisca Primasari

4 dari 5 bintang

sumber gambar: goodreads.com
Judul: Love Theft
Penulis: Prisca Primasari
Genre: Roman
Penyunting: Nur Aini, Elly Putri Andini, Adelaine
Penyelaras Akhir: Seplia
Desainer Sampul: Diwasandhi
Penata Sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Inari
Tahun Terbit: September 2017
Tebal Buku: 406 halaman
ISBN: 978-602-xxxx-20-4
Baca via Gramedia Digital


Frea Rinata memutuskan untuk cuti dari kuliah musik dan mengistirahatkan biola Stadivarius-nya. 
Untunglah dia punya kehidupan kedua yang lebih menarik, melibatkan seorang pemuda yang dipanggil ‘Liquor’, yang dicintai Frea tanpa sadar. Pemuda itu tergabung dalam perkumpulan pencuri, tapi yang dia curi bukan benda-benda biasa. 
Saat Liquor mencuri sebuah kalung mewah milik seorang gadis terkenal, masalah demi masalah pun terjadi. 
Ketika keadaan semakin runyam, apakah Frea masih berpikir bahwa kehidupan keduanya bersama Liquor ini semenarik yang dia pikirkan?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Rasa-rasanya, saya sudah lama tidak membaca novel karangan Prisca Primasari. Iya, saya memang baru saja membaca Purple Eyes beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, saya merasa sudah lama sekali tidak membaca cerita Prisca versi panjang. Love Theft merupakan novel Prisca yang awalnya diterbitkan secara mandiri dan terdiri dari dua bagian. Baru kemudian, novel ini diterbitkan ulang menjadi satu buku utuh oleh Penerbit Inari.

Dan hati yang hancur terkadang mengobati diri dengan asal-asalan.
-- Kate DiCamillo dalam Love Theft.
Novel ini menceritakan Frea, seorang mahasiswi sekolah musik yang memutuskan untuk mengambil cuti. Bukan karena apa-apa, hanya saja, Frea merasa kemampuannya di kampus tidak begitu baik. Bahkan, beberapa kali audisi yang ia ikuti, selalu berujung pada kegagalan. Setidanknya, Frea ingin menjauh sebentar dari dunia musik dan lebih tertarik untuk hidup di dunia keduanya. Hidupnya di malah hari yang melibatkan Liquor dan Night.

"Orang nggak bisa selamanya hidup sendirian. Kita selalu butuh tempat untuk bercerita."-- Frea.

Liquor dan Night adalah pencuri yang tergabung dalam organisasi Anthropods. Katanya sih, organisasi tersebut adalah organisasi yang memiliki jiwa Robin Hood. Dalam artian, hasil yang didapatkan dari mencuri akan digunakan untuk beramal. Lalu, mengapa Frea bisa terlibat dalam organisasi tersebut? Karena Anthropods adalah organisasi yang dimiliki oleh paman Frea. Maka dari itu, Frea bisa mengenal Liquor dan Night.

"Saya penjahat. Suatu saat nanti, saya akan jatuh. Saya pasti jatuh. Dan kamu akan pergi. Jadi lebih baik saya menanggungnya sendirian."
--Liquor
Night adalah sosok yang sangat tenang dan juga baik. Mungkin, kalau Night belum menikah, Frea akan menjadikan Night sebagai laki-laki yang ingin ia pacari. Sedangkan Liquor, sikapnya bisa dibilang seratus delapan puluh derajat dari Liquor. Liquor cenderung lebih dingin dan juga tidak mudah digapai. Meskipun demikian, keduanya adalah orang-orang andalan di Anthropods. Hal itulah yang membuat Frea kadang terlibat dalam misi pencurian yang tidak terduga.

"Hidup ini... untuk apa, Frea?"
"Untuk bahagia dan membahagiakan orang lain. Setidaknya menurut saya."
"Kalau kita tidak bisa melakukan dua-duanya?"
"Pasti bisa."
"Kalau tidak bisa?"
"Pasti bisa."
-- Liquor dan Frea.
Suatu ketika, Night memutuskan untuk kembali ke Jepang dan meminta Liquor untuk mengambil pekerjaan yang dilimpahkan padanya. Awalnya Liquor sempat menolak, akan tetapi akhirnya Liquor menjalankannya. Yakni, mengambil kalung Tiffany & Co milik Coco Kartikaningtyas, seorang perempuan sosialitas yang cukup terkenal. Misi tersebut memang berhasil sih, akan tetapi... ternyata Coco tidak tinggal diam saja. Coco melakukan berbagai macam hal untuk bisa menyudutkan Liquor. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapakah sebenarnya Coco ini? Yang pasti, apapun itu, hubungan Liquor dan Frea menjadi terancam. 

"Frea."
"Ya?"
"Di sini saja. Jangan pergi."
"Berapa kali saya harus bilang. Saya tidak akan pernah pergi."
-- Liquor dan Frea.

sumber gambar: google.com, disunting oleh saya
Jujur saja, setelah berbagai macam hal yang harus saya kerjakan, membaca novel yang ringan seperti Love Theft ini menajdi hiburan tersendiri bagi saya. Bahkan, saya cenderung senyum-senyum sendiri saat membacanya. Hubungan Liquor dan Frea dalam novel ini terasa manis. Awalnya saling menyangkal satu sama lain, tapi toh pada akhirnya mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat terpisahkan.

"Halo?"
[Kenapa tidak pernah datang lagi?]
"Saya sibuk, banyak tugas. Sudah sarapan?"
[Belum.]
"Terus kalau saya nggak datang dan beliin sarapan kamu nggak makan, gitu?"
-- Frea dan Liquor
Awalnya, saya sudah sebal setengah mati dengan sikap Coco. Penggambarannya sebagai cewek yang menyebalkan itu mengena sekali. Saya sampai malas ketika membaca percakapan Coco. Dia ini, tipikal cewek yang harus dituruti kemauannya. Tentunya, sangat menyebalkan. Di akhir cerita, saya cukup takjub dengan terbongkarnya identitas Coco yang asli. Saya tidak menyangka akan berujung ke sana.

Senyum paling menyakitkan adalah senyum penuh kepedihan.
Kalau ditanya, saya menyukai novel ini dari luar dan dalamnya. Sampul dalam novel ini begitu manis dan tentunya, ceritanya pun juga manis. Saya suka dengan interaksia antara Liquor dan Frea di dalamnya. Bagi saya, manisnya mereka ini pas dan tidak berlebihan. Kalau saya ditanya siapa tokoh favorit saya, maka saya akan memilih Liquor. Saya tahu kok, pasti ada alasan yang lebih besar ketika Liquor menjadi sosok yang menutup diri dan seolah-olah tidak mau digapai.

"Masa lalu saya... Apa kamu bisa menerimanya?"
"Kamu pikir saya serendah itu, mau meninggalkan kamu cuma karena masa lalu kamu? Kalau kamu memang mencintai saya, percayalah pada saya."
"Jangan tinggalkan saya."
"Berapa kali saya bilang, Saya tidak akan pernah pergi."
--Liquor dan Frea.
Baiklah, pada intinya, novel ini cukup untuk dijadikan bacaan hangat di kala senggang. Tidak perlu banyak emosi yang dikeluarkan yang pasti. Tipikal novel yang manis dan membuatmu lelah.

"Saya nggak bisa masak."
"Saya tahu."
"Kamu bisa?"
Dia menggeleng.
"Tapi waktu Night sakit kapan hari..."
"Cuma bisa memasak bubur. Saya dulu sering membuat bubur sendiri kalau sakit."
-- Frea dan Liquor
4 bintang untuk hubungan Liquor dan Frea.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Resensi: Purple Eyes - Prisca Primasari


Purple Eyes

oleh Prisca Primasari

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul: Purple Eyes
Penulis: Prisca Primasari
Genre: Fantasi, Roman
Penerbit: Penerbit Inari
Tahun Terbit: 2016
Tebal buku: 144 halaman
ISBN: 9786027432208
Baca via Gramedia Digital

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Entah mengapa, saya tiba-tiba saja tertarik untuk membaca Purple Eyes. Mungkin karena Prisca Primasari adalah salah satu penulis yang begitu familiar bagi saya. Lalu, premis yang dijanjikan dalam Purple Eyes cukup membuat saya tergugah. Well, siapa yang tidak penasaran dengan kisah yang melibatkan dua manusia yang berbeda dunia?

Lyre adalah asisten dari Hades. Iya, tidak perlu terkejut. Hades sang Dewa Kematian dalam mitologi Yunani. Jangan membayangkan Hades selalu berupa buruk dan tidak enak dilihat. Hades dalam kisah ini sungguh rupawan dan tidak begitu menakutkan. Memang tugas dari sang Dewa masih tetap sama, memutuskan kematian bagi para manusia, akan tetapi, pada dasarnya, yang memutuskan untuk mati adalah manusia itu sendiri.

Selama hampir 120 tahun, Lyre menjadi asisten Hades yang paling setia. Pekerjaan Lyre adalah mengantar setiap manusia yang berada di ambang kematian untuk menemui Hades. Hades pun memberikan pilihan bagi manusia tersebut untuk tetap hidup atau mati. Kebanyakan, manusia yang sudah berada di hadapan Hades memilih untuk mati.

Terkadang, sangat mebosankan menjalani kegiatan yang sama berulang-ulang. Sampai akhirnya, Hades ditugaskan untuk turun ke bumi karena ada kasus pembunuhan berantai yang dapat dibilang "merepotkan". Di saat-saat seperti inilah, Hades harus bertindak sebagai Dewa Kematian. Hades pun mengajak Lyre untuk turun bersamanya. Selama penyamaran mereka, Lyre memilih menggunakan nama Solveig dan Hades memakai nama Halstein.

Ketika turun ke bumi itulah, Solveig bertemu dengan Ivarr Amundsen, kakak dari salah satu korban pembunuhan berantai yang terjadi di Norwegia. Ivarr adalah sosok yang dapat dibilang mati rasa. Tidak air mata maupun emosi yang hadir saat adiknya tiada. Akan tetapi, selama Solveig berada di bumi, Halstein memberikan perintah pada Solveig supaya emosi itu muncul kembali dalam diri Ivarr Maka dari itu, Solveig pun sering menemui Ivarr dan... secara tidak langsung mulai membangkitkan emosi Ivarr yang terkubur dalam. Lalu, apa rencana Halstein yang sesungguhnya? Bagaimana, kalau dalam tugas yang tiba-tiba ini, Solveig jatuh cinta pada Ivarr?

"Jangan jatuh cinta padanya. Sebaliknya, buat dia jatuh cinta kepadamu." -- Ivarr.

Rasanya, sudah lama saya mengalami reading slumps. Ya, kira-kira, beberapa bulan ini saya rasanya tidak mampu membaca bacaan ringan sekalipun. Saya benar-benar tidak mampu. Terdengar berlebihan? Mungkin benar. Yang pasti, saya baru bisa mulai membaca beberapa hari ini. Memilih Purple Eyes sebagai bacaan pertama saya setelah reading slumps yang saya alami memang tidak salah. Saya meyukai kisah manis sederhana yang tidak terlalu muluk. Meskipun sederhana, saya menyukai keistimewaan yang terselip di dalamnya.

Awalnya, saya tidak tahu sama sekali kalau Purple Eyes merupakan novel fantasi. Baiklah. Saya hanya tertarik karena novel ini ditulis oleh Prisca. Selebihnya, saya tidak tahu apapun mengenai novel ini. Barulah ketika saya memilah unduhan-unduhan saya di Gramedia Digital, saya baru menyadari bahwa premis yang ditwarkan oleh novel ini begitu menarik. Seorang asisten Dewa Kematian jatuh cinta kepada manusia biasa. Dua orang yang berbeda dunia, saling jatuh cinta. Mengapa mereka bisa jatuh cinta? Lalu, bagaimana akhir dari kisah mereka?

Sesuai dugaan saya, tulisan dari Prisca begitu manis dan menyentuh. Oh, ya, saya tahu, novel ini lebih pantas apabila disebut dengan novellete. Sama seperti French Pink, premis yang diajukan juga sederhana. Novel yang tak lebih dari 150 halaman ini, cukup membuat saya tersenyum manis saat membacanya. Tidak membosankan. Bahkan, saya dibuat bertanya-tanya, apa sebenarnya yang direncanakan oleh Halstein kepada Ivarr. Saya cukup menyukai proses jatuh cinta antara Solveig dan Ivarr. Meskipun, harus saya akui, saya merasakan sedikit kekosongan di antara mereka.

Sampul dari novel ini mungkin terlihat sedikit... tidak menarik. Entahlah. Saya merasa sampul dari novel ini kurang hidup. Akan tetapi, mungkin itu hanya preferensi saya. Saya mengharapkan ada ilustrasi yang lebih hidup untuk novel ini. Seingat saya, sampul yang dikeluarkan oleh Penerbit Inari lainnya cukup hidup. Sebagai contoh, Love Theft--yang akan saya ulas di postingan selanjutnya. Alangkah baiknya apabila novel ini cetak ulang, akan ada elemen lain yang ditambahkan pada sampulnya.

Bagi saya, Purple Eyes merupakan novel yang tepat untuk dijadikan bacaan ringan. Setidaknya, ditemani kudapan manis dan teh atau cokelat hangat, membaca novel ini bisa menjadi media untuk bersantai,

4 bintang untuk Ivarr Amundsen yang mengesankan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu