Gramedia Pustaka Utama,

Resensi: Touche: Rosetta - Windhy Puspitadewi

Thursday, March 15, 2018 Puji P. Rahayu 0 Comments


Touche: Rosetta

oleh Windhy Puspitadewi

4 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul: Touche: Rosetta
Penulis: Windhy Puspitadewi
Seri: Touche #3
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku: 200 halaman
Tahun terbit: 2017
ISBN: 9786020351162
Baca via Gramedia Digital

Edward Kim memiliki kemampuan memahami semua tulisan, bahkan dari bahasa yang belum pernah dia dengar sebelumnya, melalui sentuhan. Dia seperti Batu Rosetta berjalan. Kemampuannya itu akhirnya dia gunakan untuk medapatkan uang dengan membantu seorang profesor di British Museum.
Tiba-tiba seorang pria asing datang menemuinya dan memintanya memecahkan sebuah teka-teki. Teka-teki yang berisi rahasia dari zaman Renaissance dan petunjuk pelaku suatu pembunuhan


Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Well, terima kasih Tuhan, akhirnya reading slump yang aku alami sudah jauh lebih berkurang. Kalau aku ingat-ingat lagi, sepertinya kecepatan membacaku sudah mulai kembal, and I'm feeling good because of that. Nah, salah satu cara untuk mengurangi reading slump adalah dengan membaca novel-novel teenlit yang ringan. Pilihanku kali ini jatuh pada novel karangan Windhy Puspitadewi ini. Ya, aku memilih Touche: Rosetta untuk bacaanku kali ini.

Touche merupakan istilah yang digunakan untuk mendefinisikan orang-orang yang memiliki kemampuan khusus melalui sentuhan. Kemampuan tersebut bermacam-macam, ada yang bisa merasakan emosi orang lain, mengetahui struktur kimia suatu benda sampai lengkap, hingga dapat memahami tulisan tanpa perlu tahu itu tulisan apa. Kemampuan terakhir itulah yang dimiliki oleh Edward, seorang pelajar yang tinggal di London, Inggris.

Kemampuan ajaibnya itu akhirnya dimanfaatkan oleh Professor Fischer, sebagai pimpinan British Museum. Professor Fischer memanfaatkan kemampuan Edward untuk menerjemahkan berbagai tulisan kuno yang bahkan tidak diketahui asal-mulanya. Yang kemudian nanti, hasil terjemahan Edward akan diakui sebagai karya dari Fischer. Edward pun mendapat balasan sejumlah uang serta biaya kuliah dari Fischer. 

Kalau di awal Edward hanya begitu-begitu saja, nyatanya hal tersebut mulai berubah semenjak terjadi pembunuhan atas Profesor Hamilton. Hal ini membuat Edward akhirnya terseret dalam satu kasus yang cukup pelik. Mulai dari Casanova, karya-karya Da Vinci dan juga Michaelangelo, hingga sejarah dari kaum Touche. Tentunya hal ini membuat Edward mau tidak mau akhirnya bekerja sama dengan Ellen dan Yunus untuk mengungkap kematian Profesor Hamilton. Nyatanya, apa yang terbentang di hadapan mereka bukanlah  hal yang mereka duga sebelumnya.

Di belahan bumi lain, terjadi pembunuhan berantai yang diduga dilakukan secara acak. Hiro, touche yang memiliki kemampuan mendeteksi seluruh struktur kimia dari semua barang yang disentuhnya, menemukan kejanggalan dari DNA para korban pembunuhan tersebut. Lagi-lagi, kenyataan yang terhampar membuat Hiro tidak dapat benar-benar tenang menghadapi hidupnya.

Aku lupa kapan terakhir kali aku membaca karya Windhy. Yang pasti, sejak aku membaca Incognito, aku sudah jatuh hati dengan cara Windhy menceritakan kisahnya ini. Aku kagum dengan upaya Windhy yang sanggup menggabungkan berbagai bukti sejarah dan juga seni menjadi satu rangkaian utuh yang masuk akal. Tentunya, riset yang dilakukan oleh Windhy bukanlah satu hal yang bisa ditempuh dalam waktu singkat. I just wanna say, good job, Kak!

Membaca Touche ini menurutku sangat menyenangkan. Bahasa yang mudah dipahami tapi juga menyajikan misteri yang menggelitik tentunya membuat aku betah membacanya. Dapat dibilang, Touche ini merupakan novel yang bisa dihabiskan dalam sekali duduk. Bagaimanapun, aku ingin segera menyelesaikan novel ini dan tahu akhirnya. Yaa, meskipun ternyata aku harus sedikit kecewa karena akhir cerita Touche: Rosetta ini sungguh cliffhanger. Hmm, baiklah. Tak apa. Mari kita tunggu saja kemunculan buku terbaru dari seri Touche ini.

Kalau aku ditanya kenapa aku bisa sangat menyukai novel ini, honestly, karena buku ini memang bikin penasaran. Selain itu, aku juga suka karakter dari Edward dan Ellen. Meskipun, to some extend aku teringat Hiro ketika membaca buku ini. Ahh, sepertinya sosok Hiro lah yang akan aku rindukan dari seri Touche. 

Pada intinya, buku ketiga dari seri Touche ini worth it to read banget. Bahkan, menurutku jauh lebih complicated cerita yang disajikan dibandingkan dua buku sebelumnya.

4 bintang untuk sikap Edward yang menggemaskan pada Ellen.

Sincerely, 
Puji P. Rahayu

You Might Also Like

0 comments: