Becky Albertalli,

Resensi: Simon vs. the Homo Sapiens Agenda - Becky Albertalli

Wednesday, June 14, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments

Simon vs. the Homo Sapiens Agenda
Memangnya, siapa yang menentukan apa itu normal dan tidak?

oleh Becky Albertalli


3 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads
Simon vs. the Homo Sapiens Agenda
Genre: Young Adult
Penulis: Becky Albertalli
Penerjemah: Brigida Ruri
Penyunting: Selsa Chintya
Proofreader: Seplia
Desain Sampul: Marla Putri
Penerbit: Penerbit Spring
Tahun Terbit: Desember 2016
Tebal Buku: 324 halaman
ISBN: 978-602-60443-0-3
Pinjam dari Fitrandi Fauzi
Gara-gara lupa me-logout akun E-mailnya, Simon tiba-tiba mendapatkan sebuah ancaman. Dia harus membantu Martin, si badut kelas, mendekati sahabatnya, Abby. Jika tidak, fakta bahwa dia gay akan menjadi urusan seluruh sekolah.

Parahnya lagi, identitas Blue, teman yang dia kenal via E-mail akan menjadi taruhannya.
Tiba-tiba saja, kehidupan SMA Simon yang berpusat pada sahabat-sahabat dan keluarganya menjadi kacau balau.

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Tidak ada hal yang lebih sulit untuk dilakukan daripada saat kamu dianggap berbeda dan "tidak normal". Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, siapa yang mendefinisikan apa itu normal dan tidak? Pada akhirnya, hal-hal seperti inilah yang membuat seorang gay tidak memiliki keberanian untuk coming out. Mengapa? Mereka takut tidak dapat diperlakukan sama dengan yang lain hanya karena memiliki identitas gender yang dianggap "tidak biasa". Padahal, sejauh pemahamanku, seseorang seharusnya bisa mendapatkan haknya. Tidak peduli ia adalah seorang hetero, gay, lesbian, atau lainnya. Toh, pada akhirnya mereka adalah manusia. Manusia yang sama-sama punya hak untuk memperjuangkan hidupnya.

***

Simon Spier. Seorang pelajar di Shady Creek. Mungkin kalian akan melihatnya sebagai seorang pemuda yang biasa-biasa saja. Dia sering menghabiskan waktunya bermain dengan ketiga sahabatnya, Abby, Leah, dan Nick. Selain itu, dia juga aktif di kelas drama bersama Abby. Hidup Simon biasa-biasa saja. Terlahir sebagai anak tengah dari keluarga yang unik, membuat Simon memiliki kepribadian yang cukup bijaksana--meskipun tidak dapat dikatakan sepenuhnya demikian. Akan tetapi, di balik sikap Simon yang biasa itu, ia menyimpan rahasianya sendiri. Ya, Simon adalah seorang gay. Dan semenjak beberapa bulan yang lalu, ia menjalin korespondensi melalui surel dengan seseorang bernama, Blue. Bagi Simon, Blue telah menjadi sosok yang begitu menarik. Berbagai cerita saling mereka bagikan, dan tentunya, Simon merasa kalau ia mulai menyukai Blue.
Tapi aku capek mencoba terbuka. Semua yang sudah kulakukan adalah menjadi terbuka. Aku mencoba tidak berubah, tapi aku terus berubah, di setiap langkah kecilku. -- Simon, hlm. 62.
Siapa Blue? Simon sendiri pun tidak mengetahuinya. Alamat surel yang didapat oleh Simon pun berasal dari situs Tumblr yang menjadi sumber gosip di Shady Creek. Awalnya, Simon merasa bahwa surel yang ia kirim tidak akan pernah terbalas, nyatanya setelah lama menunggu, Blue membalas dan akhirnya terjalinlah korespondensi tersebut. Yang menjadi permasalahan kemudian adalah, saat Simon dengan teledornya lupa me-log-out akun surelnya di komputer sekolah. Alhasil. Martin Addison, seseorang yang sering kali dijuluki sebagai badut sekolah, mengambil screenshoot dari percakapan surel antara Simon dan Blue. Sejak saat itu, kehidupan Simon menjadi tidak sama lagi.
Mungkin dia adalah pemerasku. Mungkin dia juga mulai menjadi temanku. Siapa yang tahu kalau yang seperti itu bisa terjadi.--Simon, hlm. 131.
The quote

Well
, secara tegas aku harus bilang bahwa aku samasekali tidak resisten dengan tema yang diambil oleh Becky Albertalli. Bahkan, menurutku, seharusnya buku-buku dengan tema sejenis lebih diperbanyak lagi. But I know, sentimen di negara ini kan cukup kuat. Mungkin, kalau tidak ada label dewasa yang disematkan di sampul belakangnya, buku ini akan dilarang untuk diedarkan. Yeah, you know, those fanatic-religious-groups would be very angry because of this.

So, aku sangat mengapresiasi Penerbit Spring yang mau dan berhasil menerbitkan buku dengan tema berpayungkan LGBT. Mungkin kalian bertanya mengapa aku seperti biasa saja membahas mengenai identitas gender seperti ini. Hem, jujur saja, aku sudah menemui orang-orang dengan identitas gender tersebut di dunia nyata. Aku juga tahu bagaimana kesulitan-kesulitan yang terkadang mendera mereka. Akhirnya, aku pun tidak resisten terhadap mereka. 
Sudah pasti menyebalkan karena heteroseks adalah apa yang dianggap default. Dan juga karena hanya orang-orang yang meragukan identitas mereka--yang tidak cocok dengan identitas standar--saja yang harus memikirkan hal itu.--Blue, hlm. 158.
Baiklah. Mari kita masuk ke pembahasan mengenai Simon. Ahh, harus kuakui, "oknum" yang meminjamiku buku ini pun belum membacanya. Jadi, aku tidak tahu mengapa aku berminat membacanya. Mungkin dari sampulnya? Bisa jadi. Menurutku, sampul dari Simon vs. the Homo Sapiens Agenda ini cukup berwarna dan enak dipandang. Aku suka konsepnya. 

Kemudian, aku juga suka cara bercerita Becky. Ia menggunakan sudut pandang pertama. Sehingga, aku bisa memahami keseluruhan perasaan Simon. Bagaimana galaunya masa remaja, hingga kebimbangan Simon untuk coming out. Sayangnya, aku merasa bosan saat membaca buku ini. Entahlah. Ataukah mungkin karena aku lama tidak membaca buku terjemahan? Aku juga tidak tahu. Yang pasti, aku merasa alur dari buku ini cukup lambat. Satu-satunya hal yang membuatku tetap membaca buku ini adalah identitas Blue yang sebenarnya. Ya. Aku penasaran dengan siapa Blue. Aku sudah memperkirakan kalau akan ada plot twist yang disajikan. Menurutku, upaya Becky untuk itu cukup berhasil.

Bagiku, membaca buku seperti Simon ini membuatku lebih memahami mengenai identitas gender lebih jauh. Aku bisa lebih mengerti mengapa seseorang yang merasa tidak normal, hidupnya menjadi tidak mudah. Ahh, padahal, apa yang dimaksud dengan normal hanyalah konstruksi yang dibangun oleh masyarakat. Oh, aku yakin pasti akan ada orang-orang yang memprotes keseluruhan pendapatku. Yaa, nggak masalah sebenarnya. Toh, pada akhirnya, seseorang punya pemikirannya masing-masing dan juga pembenaran dari pemikirannya tersebut.

Pada intinya, buku ini cukup menarik untuk dibaca.  Akan tetapi, kalau kalian adalah orang-orang bersumbu pendek dan suka menghakimi dari awal, please, go away! Don't try to read this book! 

Pst. Ternyata buku ini akan difilmkan loh. Hem, aku harus berpikir seribu kali sepertinya untuk menonton filmnya. Melihat kebosananku membaca buku ini, agak nggak yakin juga untuk menontonnya. But, we'll see.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

You Might Also Like

0 comments: