Hanafiah,

Resensi: Imaji Terindah - Sitta Karina

Saturday, June 17, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments


Imaji Terindah
Apakah kemudian seorang laki-laki tidak boleh menangis?

oleh Sitta Karina

3.5 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads.
Judul: Imaji Terindah
Genre: Roman
Penulis: Sitta Karina
Seri: Hanafiah #1.5
Penyunting: Siti Nur Andini
Penata Letak: Rizal Rabas
Desainer Sampul: Sitta Karina
Foto Sampul Muka: Andra Alodita
Tahun Terbit: Desember 2016, Cetakan 1
Penerbit: Literati, imprint dari Penerbit Lentera Hati
Tebal Buku:290 halaman
ISBN: 978-602-8740-60-9
Buntelan dari  penulis, Sitta Karina.


“Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati.”
Tertantang ucapan putra rekan bisnis keluarganya pada sebuah jamuan makan malam, Chris Hanafiah memulai permainan untuk memastikan dirinya tidak seperti yang pemuda itu katakan.
Dan Kianti Srihadi—Aki—adalah sosok ceria yang tepat untuk proyek kecilnya ini.
Saat Chris yakin semua akan berjalan sesuai rencana, kejutan demi kejutan, termasuk rahasia Aki, menyapanya. Membuat hari-hari Chris tak lagi sama hingga menghadapkannya pada sesuatu yang paling tidak ia antisipasi selama ini, yakni perasaannya sendiri.


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Suatu ketika, seorang teman pernah bertanya padaku, "Puj, menurutmu, apakah seorang cowok itu nggak boleh baper?". Belum sempat aku menjawab pertanyaan itu, temanku yang lain langsung menyambar, "Kalau Puji sih anaknya HAM banget. Jadi, pasti menurut dia nggak apa-apa kalau cowok baper." Aku tersenyum singkat kala itu. Ya, memang. Aku adalah orang yang berusaha sebisa mungkin menghargai perasaan orang lain. Kalau ada yang mengatakan bahwa seorang laki-laki tidak boleh terbawa perasaan dan mudah emosi. Padahal, menurutku itu adalah sifat alamiah manusia, regarding seseorang itu perempuan maupun laki-laki. Setidaknya, dalam Imaji Terindah, ada satu poin mengenai hal ini yang disinggung. Intinya adalah, seorang laki-laki pun, berhak untuk menangis. Bagaimanapun, itu bukanlah suatu kelemahan yang dimiliki oleh laki-laki tersebut. Akan tetapi, itu adalah satu-satunya cara saat seseorang tidak sanggup lagi menerima kenyataan dalam hidup.

Sekilas Kisah
Bagi Christopher Hanafiah, cinta bukanlah satu hal yang ada di pikirannya selama ini. Mengambil prinsip hidup sepupunya, Reno Hanafiah, Chris menjadi seorang womanizer--atau setidaknya berkeinganan demikian. Suatu ketika, rumah Chris kedatangan tamu dari Jepang, yakni Keluarga Kaminari. Terlahir di keluarga yang kaya raya seperti Hanafiah tidak membuat Chris dapat menikmati keseluruhan tetek-bengek jamuan makan bersama rekan bisnis keluarganya. Terlihat jelas kebosanan Chris dalam jamuan makan bersama Keluarga Kaminari. Sampai pada akhirnya, Kei Kaminari menyentil Chris dengan cukup kuat. Semua ini berawal dari ucapan Kei, "Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati." 
"Kita masih muda; banyak hal--dan kejutan--bisa terjadi.""Kejutan nggak selalu menyenangkan.""Tergantung bagaimana kita meresponsnya." -- Chris dan Aki, hlm. 54.
"Sayangnya, tidak demikian bagi kamu. Entah kenapa... kamu menjauh. Kamu ngobrol sama Alde dan lainnya, tapi selalu menghindari aku. Pacar bisa kayak gitu. Tapi, kita sahabat. Dan sahabat selalu bicara dari hati ke hati, bukan kabur melulu, apalagi pas ada masalah." -- Aki, hlm. 124. 
Sebagai seseorang yang tidak pernah memikirkan cinta, Chris pun mencari target untuk memulai permainan dan memastikan dirinya tidak seperti yang Kei katakan. Target tersebut akhirnya jatuh pada Kianti Srihadi atau yang biasa dipanggil Aki--seorang murid baru pindahan dari Jepang. Aki adalah sosok ceria yang aktif dalam cheers. Sejak pertama, Chris sudah tertarik pada Aki. Akan tetapi, setelah berbagai kejadian yang menimpa keduanya, Chris menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan perasaannya. Lama-lama, ia menyadari bahwa ia tidak akan sanggup kalau sampai kehilangan Aki. 

Aku dan Hanafiah
Kalau boleh aku jujur, ini adalah pertama kalinya aku membaca seri Keluarga Hanafiah. Harus kuakui bahwa, seri Keluarga Hanafiah ini sepertinya dapat menjadi sei favoritku. Eugh, bagaimanapun roman menye-menye seperti ini akan tetap menjadi favoritku. Aku jatuh cinta dengan cara Sitta Karina menceritakan Hanafiah. Penggambaran mengenai kekayaan mereka menurutku tidak terlalu tersebar kemana-mana. Meskipun, merek-merek branded masih banyak disebut. But, it's okay. Aku masih mampu menikmatinya.

Oh ya, sepertinya aku harus meminta maaf dulu pada Kak Sitta. Mengapa? Karena, aku baru bisa membaca dan meresensi Imaji Terindah sekarang. Seharusnya, Imaji Terindah sudah bisa kubaca sejak Februari lalu. Akan tetapi, karena adanya suatu kesalahpahaman, akhirnya novel ini tertahan di Malang, sedangkan aku ada di Depok :o Yaa, but I assume that, it's totally my fault. 

Tampilan yang Cantik
Dari penampilannya sendiri, aku suka konsep sampulnya. Sederhana dan juga, apa ya? Collect-able? Iya, sort of kayak gitu. Menurutku, sampul dari Imaji Terindah ini begitu cantik dan menyenangkan untuk dilihat. Tidak terlalu ramai tapi eye-catching. Akan tetapi, ada satu hal yang cukup kusayangkan. Entah mengapa, aku merasa margin yang digunakan terlalu lebar. Sehingga, novel ini terasa cepat habis untuk dibaca. Meskipun demikian, secara pilihan font aku suka. 


Opini Pribadi
Ahh, rasanya sudah lama sekali aku tidak membaca novel roman Indonesia. Entahlah. Akhir-akhir ini aku kebanyakan membca novel terjemahan maupun Inggris. Mungkin aku sedang tidak berminat saja waktu kemarin. Nah, akhirnya, sampailah aku untuk membaca Imaji Terindah. Bagiku, Imaji Terindah adalah kisah unyu-unyu yang menyenangkan. Awalnya, aku tidak menyangka kalau Imaji Terindah lebih ke Young Adult. Kupikir, tema yang dibawa adalah mengenai pekerja kantoran, layaknya novel-novel roman sejenis. Tapi, bukan berarti aku protes ya mengenai ini. Toh, aku masih menikmati keseluruhan cerita.
"Terima kasih, ya, Chris. Kamu benar-benar nggak pergi. Kamu bahkan tetap bercanda dan semangat, menginspirasi aku untuk melakukan yang sama. Secara nggak langsung, kamu kayak ngingetin aku, bahwa hidup itu dibawa gampang, tapi jangan ngegampangin hidup. You know, I like that!" -- Aki, hlm. 130.
 "Kalo elo punya niat baik dan ingin melakukan sesuatu yang baik, lakukan. Nggak perlu umbar dengan kata-kata. Perbuatan sudah cukup jadi bukti yang jelas," -- Niki, hlm. 142.
Namun demikian, bukan berarti aku tidak merasa ada yang aneh dalam cerita ini. Aku merasa, proses kedekatan antara Chris dan Akit terlalu cepat. Entahlah. Aku merasa kedua orang ini terlalu cepat percaya dan luluh. Lalu, aku baru tahu kalau dalam seri Hanafiah, akan ada orang-orang yang punya kemampuan tertentu. Jujur saja, itu sedikit membuatku merasa aneh. Well, sedikit ya. Lagi-lagi, bukannya aku protes.

Oh ya, selain Imaji Terindah, dalam novel ini terdapat dua cerita pendek lagi, yakni Sakura Emas dan juga Air Mata Pedang. Berhubung aku belum membaca seri Hanafiah, aku tidak tahu kedua cerita ini pada akhirnya akan mengarah kemana. Akan tetapi, di satu sisi, cerita pendek ini berhasil membangkitkan kekepoanku terhadap seri Hanafiah.
"People are always curious about other people's business. Especially about Prince Christopher's."-- Aki, hlm. 157.
"Friends... don't kiss."
"Who said we're just friends? Kita lebih dari itu, Ki." -- Aki dan Chris, hlm. 193.
Selain itu, mungkin banyak yang akan protes terhadap akhir dari kisah Chris dan Aki. Aku pun, mungkin demikian. Meskipun aku tidak sampai sakit hati karena akhirnya begitu, aku cukup tergugah untuk mbrebes mili. Rasanya seperti tidak rela akhir kisah manis Chris dan Aki harus seperti itu.
"Apa, sih, yang ingin elo kasih liat ke Kianti? You can't protect her forever, Chris. Orang pesakitan kayak dia--she doesn't even have forever!"
"She is my forever!" -- Laila dan Chris, hlm. 196.
 "Orang yang tidak menyerah terhadap persahabatan yang sudah porak-poranda, apalagi namanya kalau bukan pahlawan terhadap persahabatan itu sendiri?" -- Aki, hlm. 241-242.
Kesimpulan
Sebagai pecinta roman, aku akan merekomendasikan novel ini sebagai pilihan untuk mengisi waktu luang. Mungkin akan terasa seperti cerita cinta remaja yang menye-menye. Akan tetapi, aku melihat ada sisi lain yang dicoba ditunjukan oleh Sitta Karina. Pada intinya, novel ini masih worth it to read, kok.
"Build a friendship before marrying someone. Then, marry your best friend." -- Chris, hlm. 246-247.
3.5 bintang untuk Chris dan Aki.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

You Might Also Like

0 comments: