3 Bintang,

Resensi: Sad Cypress (Mawar Tak Berduri) karya Agatha Christie

Friday, February 10, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments

Sad Cypress (Mawar Tak Berduri)

Bagaimana caramu membuktikan kalau kamu tidak bersalah?

karya  Agatha Christie

 3 dari 5 bintang


Alih bahasa: Ny. Suwarni A.S.
Desain dan ilustrasi sampul: Staven Anderson
Tahun terbit : Mei 2014, cetakan kedelapan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal buku : 352 halaman
ISBN : 978-979-22-9155-1


Wajah Elinor memerah. "Apakah akan Anda tanyakan pada saya—apakah saya yang telah membunuh Mary Gerrard?"


Poirot bangkit. Cepat-cepat ia berkata, "Saya tidak akan menanyakan apa-apa lagi pada Anda. Ada beberapa hal yang saya tak ingin tahu...."



Namun bahkan Hercule Poirot pun kadang-kadang membohongi dirinya sendiri. Sebenarnya ia ingin—ingin sekali—tahu.



Awal mula aku tertarik dengan kisah Hercule Poirot adalah karena aku menyukai kisah detektif. Jadi, saat aku melihat novel ini di toko buku--dengan harga miring--tanpa berpikir panjang, aku pun mengambil buku ini dan penasaran dengan kisah yang disajikan oleh Agatha Christie. Well, sesungguhnya aku tertarik karena judulnya. Kupikir novel ini merupakan salah satu kisah Christie yang pernah kudengar--dan ternyata bukan setelah aku selesai membacanya. Agak kecewa sih sebenernya, tapi ya sudahlah.

Bermula dari persidang Elinor Carlisle. Gadis muda itu dituduh telah membunuh Mary Gerard, salah seorang gadis kesayangan Bibi Laura. Berbagai macam pembelaan dilakukan oleh Elinor, tapi nyatanya juri tetap menganggap bahwa Elinor bersalah. Semua bukti memang menunjukkan kalau Elinor lah yang meracuni Mary Gerard. Melihat keadaan tersebut, Peter Lord--seorang dokter kepercayaan Keluarga Welman--memutuskan untuk menghubungi Hercule Poirot. Ia berharap bahwa Poirot akan membantu Elinor untuk keluar dari tuduhan tak beralasan itu.

Pengumuman Kematian Bibi Laura Welman
Sumber gambar: google.com
Secara garis besar, cerita ini terbagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama menceritakan peristiwa sebelum Mary meninggal, yakni masa-masa Bibi Laura sedang kritis karena penyakitnya. Serta kenyataan bahwa Roddy--tunangan Elinor--jatuh hati pada Mary. Kemudian, bagian kedua merupakan peristiwa setelah Mary meninggal. Banyak menceritakan tentang penyelidikan Poirot atas meninggalnya Mary.

"Mencintai seseorang secara berlebihan selalu mengakibatkan lebih banyak kesedihan daripada kebahagiaan."--Mrs. Welman, 49.

Terbiasa membaca kisah Sherlock Holmes, membuatku biasa saja saat membaca kisah Poirot. Meskipun demikian, ada perbedaan mendasar dari kedua karakter fiksi itu. Apa itu? Holmes menurut pandanganku merupakan tokoh yang suka show off. Ia akan menjabarkan apa-apa yang ada di pikirannya secara gamblang. Sedangkan Poirot, ia lebih suka menyimpan pemikirannya sendiri dan baru ia paparkan. Akan tetapi, menurutku dalam novel ini Poirot sekadar melakukan investigasi. Aku tidak bisa menilai caranya mengungkapkan siapa dalang sebenarnya dari kematian Mary karena seingatku analisisnya itu dipaparkan oleh si pembela hukum, Sir Edward, kalau tidak salah sih doi yang bilang. Haha. Lupa aku.

Baiklah. Menurut pandangan subjektifku, karya Agatha Christie memang demikian adanya. Dalam artian, jarang ada letupan-letupan macam Holmes. Ya, beda sih emang cara investigasi Holmes dan Poirot. Holmes menggunakan deduksi sedangkan Poirot menggunakan sel abu-abunya. Well, bukan berarti aku nggak menyukai hal itu ya. Menurutku malah memberikan bentuk lain dari investigasi para detektif kece ini. 

Hal yang cukup mengganggu dari versi yang aku baca adalah, typo-nya naudzubillah banyaknya. Huhu. Sebenernya mau aku catetin semua, tapi aku keabisan post it *alasan. Tapi bener, kok. Padahal ini sudah cetakan kesekian, tapi nyatanya pihak GPU tak berniat untuk merevisinya. Kecewa dong aku. Tapi mungkin karena novel tua sih, ya. *mencoba memaklumi dan memahami.

Kalau dari segi tampilan, jujur aku suka konsep yang diangkat oleh GPU. Membuat seri Agatha Christie seragam memang benar-benar cerdas. Membuat pembaca kepengin membaca semuanya. Haha. Padahal ceritanya tidak berhubungan. Intinya sih, sampulnya itu koleksi-able. Baiklah. Kapan-kapan cari obralan lagi.

Pada intinya, Agatha Christie punya cara sendiri untuk menarik pembacanya. Meskipun sebenarnya Hercule Poirot tidak menjadi tokoh yang dominan dalam buku ini, aku masih bisa merasakan kewibawaan dan ketajaman analisis yang dibuat olehnya. Well, so far nggak menyedihkan sih novelnya. Cukup memuaskan keinginanku membaca kisah misteri.

2.5 bintang untuk Elinor.

Catatan:
Kuatir - Khawatir
"Sambil mengedipkan... - Sambil mengedipkan... (tanpa petik). hlm. 51.
Suatu sosok... - Sesosok.... (suatu merujuk pada benda). hlm. 60
...kata Ted bijak, sambil mengangguk. ' Hanya itu saja." - ...kata Ted bijak, sambil mengangguk. "Hanya itu saja." hlm. 61
Di ikuti oleh kedua juru rawat... - Diikuti oleh kedua juru rawat... hlm. 68.
"Maksut Anda... - "Maksud Anda... hlm. 82.
Apakah Anda ingin.. - "Apakah Anda ingin... hlm. 95.
Anda sangat--sangat baik...- "Anda sangat--sangat baik... hlm. 97.

You Might Also Like

0 comments: