3 Bintang,

Resensi: Asa Ayuni karya Dyah Rinni

Wednesday, February 08, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments

Asa Ayuni

Sudah siapkah kamu kehilangan orang terdekatmu secara tiba-tiba?

karya  Dyah Rinni

 3 dari 5 bintang

Sumber gambar: Goodreads.com
Waktu baca: 7 Januari 2017
Penulis: Dyah Rinni
Penyunting: Jia Effendie
Tahun terbit: Desember 2016
Tebal buku: 244 halaman
Penerbit: Falcon Publishing
ISBN: 978-602-14568-9-7


Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Di salah satu bloknya, ada sebuah rumah, yang kalau kau masuk ke dalamnya akan merasakan nuansa paduan klasik dan modern. Desainnya tampak chic, dan bantal pink elektrik di atas sofa cokelat akan membuatmu betah di sana.

Seorang perempuan yang pandai membuat kue tradisional akan menjadi teman mengobrolmu. Dia punya toko kue tak jauh dari rumahnya. Dia sedang berduka, baru saja kehilangan suaminya. Ada getir terpancar dari matanya. Namun, dia amat terlihat berusaha tegar. Perempuan itu Ayuni. Perempuan manja yang sedang berpura-pura tangguh demi memupuk asanya yang baru saja hancur.


***

Tidak akan pernah ada yang menyangka kalau orang terdekat kita bisa pergi begitu saja tanpa pemberitahuan. Tidak akan pernah ada yang tahu apa rencana Tuhan bagi seorang manusia. Kehilangan seseorang yang kita cintai bukanlah hal yang mudah. Aku pun demikian. Dalam artian, aku pernah merasakan kehilangan salah seorang temanku. Mungkin, hal tersebut tidak akan terasa dampaknya yang signifikan, akan tetapi, kehilangan seseorang pasti memengaruhi beberapa hal dalam hidup kita. Entah dari cara kita memandang hidup, ataupun dari cara kita menjalankan hidup. Kehilangan yang tiba-tiba dapat mengguncang emosi kita. Tidak ada yang bisa memungkiri hal tersebut. Karena, begitulah manusia menghadapi kehilangan.

Begitu pulalah apa yang dirasakan oleh Ayuni. Ayuni sama sekali tidak menyangka kalau suaminya, Satria, tiba-tiba saja pergi meninggalkannya. Ketidaksiapan Ayuni dalam menghadapi kehilangan membuat hidup Ayuni cukup berantakan. Toko kue yang ia kelola, Gulaloka, awalnya hanya digunakan sebagai usaha sampingan dan sebagai perwujudan kecintaan Ayuni untuk memasak. Akan tetapi, semenjak kepergian Satria, Gulaloka menjadi sumber keuangan utama bagi Ayuni. Selain itu, Ayuni yang tidak terlalu dekat dengan anaknya sendiri, harus berusaha membagun komunikasi dengan Aldi. Hal ini tidak mudah karena Aldi mengidap Asperger's Syndrome. Tentunya, hal ini membuat Aldi harus mendapat perawatan khusus. Dengan demikian, Ayuni menyadari banyak hal yang harus ia bangun dari awal. Salah satu hal yang menjadi fokus perhatian Ayuni adalah Gulaloka. Ayuni menyadari bahwa tidak ada lagi orang yang mampu mengurusi manajemen toko, maka dari itu, Ayuni membuka lowongan manajer di Gulaloka.

"Kalau emang belum siap, jangan dipaksakan, mbak. Kehilangan itu memang berat." Jeniper, hlm. 52.

Di lain sisi, ada Elang yang mendapat kritikan keras dari seorang kritikus makanan di restoran yang didirikan olehnya dan temannya di Australia. Karena perbedaan prinsip yang ada, akhirnya Elang memutuskan untuk mundur dan kembali ke Indonesia. Pada dasarnya, sepupu Elang, Zetro, meminta Elang untuk menemui ayahnya karena beliau sakit keras. Apalagi, hubungan Elang dan ayahnya memang tidak baik. Kenangan masa lalu yang buruk membuat Elang enggan sekadar menjenguk ayahnya sendiri. Saat mencari pekerjaan, Elang akhirnya tertarik untuk melamar ke Gulaloka. Sebagai seseorang yang lama bergelut dalam bisnis restoran, Elang memiliki selera tinggi dan banyak kritikan untuk Gulaloka. Awalnya, Ayuni merasa sebal dengan sikap Elang, tapi akhirnya Ayuni mulai melakukan kompromi.

Segala sesuatu pasti ada pengorbanannya. hlm. 93.

Well, kalau aku boleh jujur, aku sedikit sebal dengan tokoh Ayuni. Dia ini, benar-benar membuat aku gregetan. Sikapnya yang terlampau kekanak-kanakan dan selalu memaksakan kehendaknya membuatku ingin sekali melempar dia. Apalagi, dia juga tidak berpikiran panjang. Untungnya, ada tokoh Elang, Aldi, dan Zetro yang memberikan warna bagi cerita ini. Aku lumayan terkesan karena novel ini tidak sekadar menceritakan tentang proses kehilangan Ayuni. Baiklah, memang fokusnya di situ, tapi bukan sekadar kegalauan Ayuni yang diceritakan. Tapi bagaimana Ayuni menghadapi kehidupannya pasca meninggalnya Satria. Aku salut dengan Dyah Rinni yang berhasil memunculkan rasa frustrasi Ayuni saat tidak bisa menjangkau Aldi. Bahkan, aku juga menyukai perkembangan karakter Ayuni yang lumayan berubah drastis di akhir cerita. Great job, Dyah Rinni!

Sumber gambar: google.com, disunting oleh Puji
Sejalan dengan konsep sampul yang ditawakan oleh Blue Valley Series, aku suka dengan sampul Asa Ayuni yang sederhana. Warna hijaunya tidak membuat mata sakit dan membuat adem saat dipandang. Mungkin yang cukup disayangkan adalah, warnanya mirip dengan novel Lara Miya--novel Blue Valley series lainnya. Menjadikanku sempat terkecoh dan keliru mengenali kedua novel ini. Oh ya, kalau boleh aku berpendapat, sepertinya kertas dari sampul Blue Valley Series tidaklah setebal sampul novel-novel lainnya. Sehingga terkesan lebih tipis dan mudah terlipat. Mungkin pihak Falcon bisa memperbaiki kualitas dari kertas sampul ini. 

"Perasaan, seperti laut, juga bisa berubah. Kadang pasang, kadang surut. Hanya saat tenang kita bisa tahu perasaan kita yang sebenarnya." Dinnah, hlm. 151.

Kalau aku tidak salah, Asa Ayuni merupakan novel tertebal di antara novel Blue Valley lainnya. Masalah yang dipaparkan pun cukup kompleks karena Dyah Rinni mengangkat masalah pengasuhan anak Aspie. Waktu aku datang launching-nya pun, aku menyadari kalau sepertinya Dyah Rinni merupakan salah seorang penulis yang harus merombak tulisannya dari awal. Wow. Salut juga sih dia bisa membuat cerita seperti ini dalam waktu yang singkat. Seperti yang dinyatakan oleh Jia Effendie, proses penulisan Blue Valley Series, beserta produksinya, kurang lebih hanya memakan waktu tidak sampai setahun. Pantas apabila penulis-penulis yang digandeng memang penulis yang memiliki karakter masing-masing. Pokoknya, aku senang saat membaca Asa Ayuni. Ada pelajaran-pelajaran yang terselip dalam setiap tingkah laku dan tindakan para tokoh. Yaa, meskipun aku masih tetap sebal dengan Ayuni. Untung saja sifatnya berubah di akhir-akhir dan malah menjadi tokoh yang penting untuk Elang. 

Kalau kalian memang ingin membaca novel tentang kehilangan orang terdekat, Asa Ayuni bisa menjadi pilihan. Mungkin, kalian bisa belajar bagaimana cara melanjutkan hidup setelah kalian kehilangan orang terdekat kalian itu.

"Kita harus bekerja keras, kalau tidak dunia ini akan keras pada kita." Elang, hlm. 152.

3 bintang untuk Gulaloka yang terus bahagia.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

You Might Also Like

0 comments: