4 Bintang,

Resensi: Elegi Rinaldo karya Bernard Batubara

Monday, January 30, 2017 Puji P. Rahayu 0 Comments

Elegi Rinaldo

Apakah kehilangan dapat mengubah prinsip hidup yang kamu miliki?

karya  Bernard Batubara

 4 dari 5 bintang

Sumber gambar: goodreads.com
(Blue Valley Series #1)
Penulis: Bernard Batubara
Penyunting: Jia Effendie
Tahun terbit: Desember 2016
Penerbit: Falcon Publishing
Tebal buku: 204 halaman
ISBN: 978-602-60514-0-0


Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.

Jika kau berjalan ke salah satu blok, kau akan menemukan rumah yang setiap pagi dipenuhi nyanyian Rihanna. Seorang pemuda kribo yang selalu menenteng kamera tinggal di sana bersama tantenya. Dia sering kali bersikap dingin. Dia menyimpan duka. Sisa penyesalan terdalam dua tahun lalu.

Ada gadis yang menantinya, dan ingin menamai hubungan mereka yang kian dekat. Namun, pemuda itu selalu ragu. Dia menyukai gadis itu, tetapi... selalu merasa bersalah jika memberikan tempat yang sengaja dia kosongkan di hatinya. Namanya Rinaldo. Panggil dia Aldo, tapi jangan tanya kapan dia akan melepas lajang.


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Blue Valley. Sebuah kawasan perumahan yang terletak di Jakarta bagian selatan. Di sana, di salah satu blok, ada sebuah rumah yang dipenuhi nyanyian Rihanna. Rumah itu ditinggali oleh pemuda kribo dan tantenya. Namanya Rinaldo, atau akrab dipanggil Aldo. Seorang fotografer lepas yang selalu bersikap dingin dan tidak suka memakan roti. Tak ada yang menyangka kalau cowok itu menanggung penyesalan atas apa yang terjadi dua tahun yang lalu. Tante Aldo, Fitri, adalah keluarga Aldo satu-satunya. Kedua orang tua Aldo telah meninggal. Sehingga, keseluruhan biaya hidup Aldo dan tantenya, ditanggung oleh Aldo. Sebenarnya, Aldo tidak menyetujui gaya hidup Tante Fitri yang cenderung boros. Akan tetapi, karena Tante Fitri adalah anggota keluarga Aldo satu-satunya, maka Aldo pun berusaha untuk menyenangkan tantenya itu.

Dia datang tidak hanya sebagai pekerja lepas yang diberi tugas dan dibayar, tetapi juga sebagai anggota keluarga. hlm. 7.
Suatu ketika, Aldo mendapat pekerjaan dari temannya, Dinda. Dinda memintanya untuk menjadi food photographer di restorannya. Tentunya, Aldo menyanggupi hal tersebut. Akan tetapi, ternyata itulah yang menjadi awal pertemuan Aldo dengan Jenny--teman Dinda yang juga seorang chef. Jenny tidak bisa dikatakan sebagai cewek yang ramah. Ia bahkan membuat Aldo kesal karena sikapnya yang tidak bersahabat. Meskipun demikian, pada akhirnya Aldo dan Jenny menemukan sesuatu yang berbeda dalam hubungan mereka. Bahkan, Aldo dan Jenny cenderung semakin dekat satu sama lain. Sayangnya, masih banyak keraguan yang dialami oleh Aldo. Kehilangan yang ia rasakan nyatanya memberikan trauma mendalam bagi Aldo.
"Enggak ada yang bisa dipastikan di Jakarta, kecuali yang enggak pasti itu sendiri." hlm. 27.
Membaca kisah Aldo dan Jenny, membuatku mengerti mengapa pada akhirnya seseorang enggan untuk menikah. Pertama karena mengalami kehilangan seseorang yang kita cintai, dan kedua karena kita masih belum bisa menemukan makna dari suatu pernikahan. Sehingga, pernikahan cenderung dianggap hanya sebagai suatu hal yang konyol. Aku benar-benar memahami bagaimana upaya Aldo dan Jenny untuk saling memahami meskipun hubungan mereka penuh dengan keraguan. 
"Hal paling menyakitkan dari memiliki seseorang yang sangat mengenal dirimu adalah ketika dia tahu apa yang kamu takuti, tetapi orang itu tetap melakukannya." hlm. 118.
Dari segi cerita, menurutku Bernard Batubara mencoba untuk mengangkat kisah yang sederhana tapi dieksekusi dengan apik. Hubungan Aldo dan Jenny terkesan natural dan tidak tampak dipaksakan. Yaa, meskipun ada bagian yang menurutku temponya terlalu cepat. Aku suka cara Bernard menggambarkan tokoh-tokoh di sekitar Aldo dan Jenny. Mulai dari Dinda hingga Tante Fitri yang memberikan warna bagi hubungan Aldo dan Jenny.

Sumber gambar: google, disunting oleh Puji
Salah satu hal yang aku sukai dari novel ini adalah, konsep sampul yang diusung oleh Blue Valley Series. Menurutku, sampul Blue Valley Series sederhana tapi mengena. Pada saat aku menerima novel ini, aku sudah jatuh hati pada sampulnya. Dan lagi, aku bertanya-tanya mengenai arti dari satu gambar yang ada di setiap sampul. Sebagai contoh, aku penasaran dengan maksud gambar panda di sampul Elegi Rinaldo ini. 
"Kamu sok enggak butuh siapa-siapa. Kamu pikir kamu bisa hidup sendiri. Padahal kamu juga takut kesepian. Kamu takut ditinggalin. Kamu takut kehilangan orang yang kamu sayang." hlm. 177.
Entah mengapa, aku merasa kalau kisah ini begitu manis meskipun juga terasa sedih. Selain itu, kisah ini juga terasa sangat nyata. Sehingga, aku tak menyesal sama sekali saat membaca novel ini. Selain kita bisa menikmati kisah Aldo dan Jenny, kita juga bisa memahami mengenai keengganan untuk menikah yang dialami oleh sebagian besar orang.

4 bintang untul Aldo dan rambut kribonya.

Sincerely,

Puji P. Rahayu

You Might Also Like

0 comments: