Dya Ragil,

[Resensi] Star Light Karya Dya Ragil

Friday, December 02, 2016 Puji P. Rahayu 0 Comments

Star Light

"Udah, lupain. Dua prinsip yang benar-benar beda nggak bakal pernah ada itik temunya biar didebatin sampai botak." Lintang, hlm. 59.

Karya  Dya Ragil
3.5 dari 5 bintang

Sumber gambar: goodreads.com
Penulis                 : Dya Ragil
Genre                   : Young Adult, Teenlit
Seri                      : Gramedia Writing Project
Desain sampul     : Orkha Creative
Pemeriksa aksara : Abduraafi Andrian
Penerbit                : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit          : 2016
Tebal buku           : 264 halaman
ISBN                    :9786020327532
Hadiah pada saat mengunjungi booth iJakarta di IIBF.


Bakal kusedot semua cahaya dari bintang-bintang yang kelewat dekat. Hati-hati, bisa aja kamu salah satunya.

Gimana rasanya satu kelompok belajar sama murid-murid berbeda kepribadian? Harusnya sih seru, tapi Wulan merasa kebalikannya. Dia bete mesti sekelompok sama Lintang—saudara kembarnya yang lebih disayang sang ayah, Bagas si genius bermulut besar, Nindi yang galak dan dingin, juga Teguh si biang onar. Hubungan kelimanya makin kacau waktu sekolah mengadakan seleksi perwakilan untuk olimpiade sains. 

Di tengah persiapan olimpiade, Wulan harus menghadapi sang ayah yang selalu meragukan dirinya, mantan pacar yang kerap menindas saudaranya, juga mantan gebetan yang terus mengganggu konsentrasinya. 

Akankah kehidupan SMA Wulan berjalan mulus? Atau dia gagal membuktikan kemampuannya?

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:


Mungkin, sudah lama sekali aku tidak membaca novel teenlit. Dalam artian, akhir-akhir ini aku lebih banyak membaca novel metropop maupun fantasi. Well, kalau boleh jujur, teenlit merupakan jenis novel yang mengenalkanku dengan dunia membaca. Aku masih ingat, saat SMP aku benar-benar suka membaca novel dan semua itu bermula dari novel teenlit. Teenlit sendiri merupakan novel yang ditujukan untuk usia remaja. Tidak heran bila cerita yang disajikan oleh Dya Ragil dalam Star Light tidak jauh-jauh dari cerita remaja SMA. Yang perlu digarisbawahi, dalam novel teenlit sendiri tidak melulu tentang percintaan. Tapi juga ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan para tokoh.

Terlahir kembar bukan berarti bisa mendapatkan perlakuan yang sama. Itulah yang dirasakan oleh Wulan. Sejak kecil, Wulan merasa bahwa ayahnya lebih menaruh perhatian pada saudara kembarnya, Lintang. Sebenarnya, Wulan tidak benci kepada Lintang, hanya saja terkadang terselip rasa iri dalam diri Wulan saat ayahnya lebih banyak membahas masa depan Lintang. Berbagai macam hal seolah-olah digariskan oleh ayah untuk Lintang. Sedangkan Wulan, jarang sekali mendapat perlakuan yang sama. Terkadang, Wulan merasa bahwa ayahnya cenderung pilih kasih.

Bagi Wulan, astronomi telah menjadi salah satu subjek yang ia sukai. Ia bisa betah mengamati keadaan langit selama berjam-jam. Memandangi rasi bintang Sirius maupun Antares menggunakan teleskop. Maka dari itu, saat tahu kalau seleksi olimpiade sains dibuka untuk semua murid, Wulan pun teringat akan impian kecilnya untuk menjadi astronom. Tak heran bila Wulan berusaha sekuat tenaga untuk dapat lolos dalam seleksi olimpiade sains bidang astronomi.Akan tetapi, Wulan tahu kalau impiannya tersebut tidak akan mudah untuk dicapai. Usaha yang lebih keras harus dilakukan Wulan untuk mendapatkan tempat dalam olimpiade sains. 

Sayangnya, konsentrasi Wulan terganggu karena ia mendapat kelompok belajar yang luar biasa. Keempat anggota kelompok Wulan memiliki kepribadian yang berbeda. Ada Bagas, cowok genius tapi bermulut setajam pisau, Nindi yang selalu dingin dan masa bodoh dengan orang lain, Teguh yang dikenal sebagai biang kerok di sekolah, dan juga Lintang, saudara kembar Wulan sendiri. Harapan Wulan ingin berkonsentrasi lebih lanjut pada olimpiade sains malah terganggu dengan keraguan ayahnya terhadap kemampuan Wulan, sikap Bagas yang sangat menyebalkan, Nindi yang sulit untuk diajak kompromi, Teguh yang semakin bikin naik darah, dan juga Lintang yang terkadang tidak dapat menahan emosi. Alhasil, Wulan benar-benar harus berusaha ekstra untuk dapat melalui kehidupan SMA-nya yang terlihat biasa-biasa saja di awal.

"Alasan selalu sederhana.Yang jadi pembeda kan gimana kita bisa bikin hal sederhana itu jadi sesuatu yang nyata dan berarti besar." Lintang, hlm. 64.

Bintang-bintang Bertaburan dengan Cantik
Pada dasarnya, aku tertarik membaca Star Light berawal dari sampulnya. Baiklah, aku harus mengakui kalau aku lemah dengan sampul cantik. Menurutku, sampul dari Star Light benar-benar menggambarkan isi dari ceritanya. Pas sekali apabila novel ini benar-benar ditujukan untuk kalangan remaja. Apalagi, konsep dari sampulnya sendiri pun sesuai. Mulai dari gambar rumah beserta dua orang yang sedang mengamati bintang. Aku tertarik dengan hanya melihat sampul dari novel ini.

Tidak Hanya Tentang Romansa Remaja
Salah satu ciri khas dari teenlit biasanya ceritanya tidak akan jauh-jauh dari kegalauan masa remaja. Akan tetapi, hal tersebut tidak terlalu kutemukan di Star Light. Dalam novel ini, Dya Ragil mencoba untuk menggambarkan bagaimana upaya Wulan dalam meraih impiannya. Ia berupaya untuk berfokus pada satu hal meskipun ia sadar, banyak hal yang merintangi keinginannya untuk berfokus pada hal yang ia impikan. Permasalahan dalam kelompok belajarnya terkadang membuat Wulan menjadi stres. Belum lagi, Wulan masih belum percaya diri apabila dibandingkan dengan Lintang. Ia tahu kalau ayah masih meragukan kemampuannya dalam olimpiade sains.

Star-light-karya-dya-ragil
Sumber gamabr: google.com, disunting oleh penulis.
Secara keseluruhan, Star Light cukup menggambarkan apa saja yang ditemui oleh seorang anak SMA. Menurutku, apa yang dialami Wulan memang merupakan hal-hal yang mungkin terjadi. Maksudku, aku dulu waktu SMA juga berupaya untuk mendapatkan posisi dalam olimpiade sains. Kegalauan Wulan dalam menghadapi dunia akademis dan sosialnya dapat kumengerti. Aku senang Dya Ragil mampu membawakan hal ini dengan baik. Well, terkadang aku sedikit kecewa dengan novel-novel teenlit yang aku temui. Kebanyakan, novel tersebut sekadar membahas kegalauan romansa remaja. Padahal, hal-hal mengenai impian, harapan, serta keluarga seharusnya dapat diselipkan dalam novel seperti Star Light.

Kemudian, kalau untuk penokohannya sendiri, aku merasa ada dualisme tokoh dalam Star Light. Meskipun pada bagian blurb seolah-olah tokoh utama dalam novel ini adalah Wulan, menurutku Lintang juga mendapat porsi yang cukup besar. Akan tetapi, hal tersebut tidak membuat porsi kemunculan tokoh lainnya menjadi tertutupi. Menurutku, porsi dari masing-masing tokoh sudah pas. Dya Ragil berhasil mengeksekusi novel ini dengan cemerlang.

Pada dasarnya, seperti yang telah kuucapkan di atas, novel ini bukan sekadar tentang romans. Tapi juga tentang bagaimana cara kita menghadapi ekspektasi seseorang pada diri kita, bagaimana cara kita memaafkan atas segala kesalahan yang pernah kita perbuat, dan juga tentang harapan-harapan yang kita raih. Novel ini begitu kaya akan pelajaran hidup bagi remaja. Jadi, worth to read, kok. Intinya, aku sangat menyarankan buat teman-teman untuk membaca novel ini. Bagi yang remaja, lumayan sebagai refleksi. Sedangkan untuk yang sudah tidak remaja, lumayan lah untuk nostalgia.

"Semua yang hilang, bisa kembali kalau kamu nggak menyerah. Kalau berusaha keras,impian sebesar apa pun masih mungkin diraih." Ayah, hlm. 152.

3.5 bintang untuk hubungan rumit yang tercipta di kelompok enam.


You Might Also Like

0 comments: