2.5 Bintang,

Dilwale by Vivie Hardika | Book Review

Saturday, November 26, 2016 Puji P. Rahayu 0 Comments

Dilwale

"Pernikahan itu bukan lotre, hanya keberuntungan yang akan membuatmu memenangkannya. Dalam pernikahan, kau harus yakin, bukan berpikir kau akan beruntung. Dan keyakinan itu hanya bisa ditumbuhkan oleh cinta saja." Raja, hlm. 128.

By  Vive Hardika
2.5 of 5 stars

Image source: goodreads.com
Penulis             : Vivie Hardika
Editor               : Astuti Parengkuh dan Zya Verani
Proofreader      : Ocuz Wina dan Richa Miskiyya
The Layouter   : Fuan Fauzi
Desainer cover : Paulus Nugroho
Penerbit            : Universal Nikko
Tahun terbit      : September 2016
Tebal buku        : xii+322 halaman
ISBN                : 978-602-9458-22-0
Buntelan dari penulis, Vivie Hardika/@CacaCungkring


Dear Papa...
Sejak kecil kau telah memilihkan banyak hal untukku.
Nama, mainan, teman, sekolah bahkan pekerjaan.
Tidak bisakah kali ini aku memilih teman hidupku sendiri, Papa?
Aku hanya ingin hidup dengan laki-laki yang kucintai, bukan dengan lelaki yang akan kucintai.
Lelaki yang akan membuatku bersedia meninggalkan duniaku dan berbagi dunianya.
Aku hanya akan memulai permainan kehidupan ini dengan orang yang tepat. Sebab aku tidak ingin melihat air matamu suatu saat nanti jika aku tidak berhasil mengakhiri permainan dengan kemenangan.
Aku hanya akan menikah dengan Raj-ku, Papa.

Your baby girl as always, Sanjana.


Info lebih lanjut dapat dibaca di:

Disclaimer: I got this book from the author in exchange for an honest review.

Kalau boleh aku jujur, inilah pertama kalinya aku membaca novel dengan latar India. Oh, bukan hanya itu. Ini pertama kalinya aku membaca novel dengan tokoh orang India dan berlatar di India. Jadi, ini adalah pengalaman pertamaku membaca novel yang berbau india.

India. Aku sering mendengar tentang negara yang terletak di Asia Selatan ini. Berbagai macam hal kuketahui menghiasi negara tersebut, mulai dari Taj Mahal, industri bollywood-nya, hingga kota-kota yang ada di sana, seperti New Delhi dan Mumbai. Well, to be honest, aku bukanlah penggemar film India. Mungkin, film india yang pernah kutonton hanya sebatas Kuch Kuch Hota Hai dan Kabhi Khushi Kabhi Gham saja. Menontonnya pun karena orang rumah sedang menonton film yang dibintangi oleh Shahrukh Khan itu. Pada intinya, referensiku akan film India tidaklah banyak. Alhasil, aku juga tidak terlalu tahu bagaimana budaya India dan latar sosialnya seperti apa. 

Membaca Dilwale merupakan hal yang menarik buatku karena secara tidak langsung, Dilwale telah mengenalkanku dengan berbagai tradisi yang ada di India. Oh ya, kalau teman-teman ingin tahu alasanku tertarik pada Dilwale, maka aku akan menjawab, bahwa aku tertarik karena blurbnya. Iya. Selemah itu aku dengan premis perjodohan. Yaa, bukan berarti aku ingin menikah cepat juga sih.

"Semua orang pasti ingin menikah dengan orang yang dicintainya." Sanju, hlm. 129.

Perjodohan yang Gagal

Cerita Dilwale dibuka dengan usaha pelarian Sanju dari pernikahan yang telah diatur oleh ayahnya, Sudesh. Berbekal keyakinan bahwa pernikahan seharusnya dilakukan oleh dua orang yang saling mencintai, maka Sanju pun memutuskan untuk kabur dari pernikahannya dan mencoba untuk tidak kembali ke rumahnya. Tentunya, hal ini menimbulkan kekecewaan yang besar bagi Sudesh. Entah seberapa malunya ia kepada seluruh undangan yang telah hadir pada acara pernikahan itu.

Dalam pelariannya, akhirnya Sanju memutuskan untuk tinggal di rumah sahabatnya, Shradda. Di sanalah Sanju bertemu dengan Raja. Tanpa disangka, Sanju dan Raja saling tertarik satu sama lain. Berbagai macam hal mereka lalui bersama, seperti menikmati keindahan Darjeeling. Betapa senangnya mereka bisa menjadi begitu dekat. Sayangnya, Raja harus segera pergi ke Mumbai untuk melakukan pertandingan kriket. Tanpa disangka, ayah Sanju hadir pada pernikahan kakak Shradda. Hal ini memmbuat Sanju panik dan memutuskan untuk kabur dari ayahnya (lagi). Sejak itu, Sanju mengikuti kemana Raja pergi. Di Mumbai lah, benih cinta di antara keduanya semakin menguat dan akhirnya, Raja meminta Sanju untuk menikah dengannya.

Ketika seseorang telah kehilangan harapannya, sangat kecil kemungkinan ia masih bisa berdiri tegak dengan wajah tersenyum. hlm. 220.

Di saat keduanya yakin akan menikah, Sanju dan Raja menemui masalah. Ayah Sanju tidak menerima Raja dan hanya ingin Saju menikah dengan pria pilihannya. Otomatis, Sanju berada pada dilema yang besar. Apakah tetap bersama Raja dan mengkhianati ayahnya, atau mematuhi semua perkataan ayahnya dan meninggalkan Raja?

Aku Bukan Penggemar India tapi Aku Terkesan

Sekali lagi aku tegaskan, aku bukanlah orang yang suka menonton film India. I means, I am not SRK's fans or other. Pada intinya, aku cukup netral dengan budaya negara yang mayoritas Hindu tersebut. Akan tetapi, Dilwale berhasil membuatku terkesan. Dalam artian, aku bisa mengenal India lebih dalam dari deskripsi yang dijelaskan oleh Vivie Hardika. 

Dulu, kalau aku ditanya akan India, aku pasti hanya pernah tahu tentang Taj Mahal, New Delhi, Mumbai, dan lainnya. Setelah aku membaca Dilwale, setidaknya aku jadi mengenal Darjeeling. Oh, ya. Sekadar intermezzo, hari kamis lalu (24/11), aku mengikuti seminar yang salah satu pembicara merupakan duta besar India untuk ASEAN. Oleh karena itu, aku bisa mendapat semacam guide book soal India dan aku menemukan Darjeeling di buku itu. Jujur saja, Darjeeling terlihat cantik. Berasa ada di Himalaya karena pemandangan gunung bersaljunya.

Selain itu, banyak banget detail India yang dicoba untuk digambarkan oleh Mbak Vivie. Mulai dari pakaian khas India (lengeha), makanan khas di sana (paratta), hingga tradisi pernikahan yang ada. Aku senang jadi banyak tahu tentang India. Lumayan lah menambah wawasan akan India.
Image source: google.com, edited by me
I think it's a little bit too much

Oke. Saatnya diriku melakukan analisis sotoi. Mungkin pandangan ini sangat subjektif--iyalah. Orang ini nulisnya pakai perasaan. Hehe. Menurutku, cerita yang ditawarkan oleh Mbak Vivie cukup menarik. Apalagi, untuk orang-orang yang menjadi tiga wajik--baca: lemah--terhadap blurb yang unyu-unyu macam Dilwale ini, akan berkekspektasi positif. Oke. Ini beneran subjektif. Soalnya aku memang suka cerita tentang perjodohan dan kegalauan soal cinta. *plak. 

Sayangnya, Mbak Vivie, aku harus menyatakan ini. Entah mengapa, dari awal aku sudah dapat menebak jalan ceritanya. Yaa, meskipun sedikit membingungkan di awal, tapi aku bisa menghubungkan berbagai potongan yang tersebar dalam cerita ini. Memang tebak-tebak buah manggis sih, tapi nyatanya malah beneran :"

Kemudian, sebenarnya aku nggak keberatan sama sekali dengan banyaknya bahasa India yang tersebar di novel ini. Bahkan, ada yang bahasanya gado-gado, mulai dari India, Inggris, hingga Indonesia. Permasalahannya, tidak semua kalimat oleh Mbak Vivie diterjemahkan. Otomatis, orang-orang kayak aku yang nggak pernah merhatiin film India, nggak terlalu paham apa yang dikatakan oleh si tokoh :( Tapi mungkin itu akunya aja yang nggak familiar.

Lalu, entah mengapa aku sedikit nyinyir akan satu hal. Yap, apalagi kalau bukan EBI. Selama aku membaca novel ini, aku menemukan beberapa kesalahan ejaan dan juga typo. Yaa, sebenernya sih nggak semengganggu itu, cuma, nggak nyaman aja waktu baca. 

Oh, ya ada satu hal lagi yang menurutku too much, yaitu, bagian akhir yang seolah diulang dua kali. Entahlah. Menurutku itu adalah suatu hal yang tidak perlu. Kesannya, cerita ini menjadi berputar-putar. 

Mencoba sesuatu yang baru

Meskipun demikian, menurutku, Mbak Vivie berhasil dalam membawakan kisah berlatar India ini. Mengapa? Sejauh yang aku tahu, jarang sekali penulis Indonesia yang mengambil latar di negeri Taj Mahal itu. Meskipun mereka menggunakan latar India, jarang sekali penulis Indonesia yang mengambil tokoh berlatar belakang orang India pula. Jadi, menurutku Mbak Vivie berhasil membuat gebrakan untuk itu. 

Simpulan keseluruhan dari ulasanku adalah, cerita yang ingin disampaikan oleh Mbak Vivie sudah cukup menarik. Bagaimanapun, pembahasan mengenai cinta pada seseorang dan dibandingkan dengan cinta para orang tua, dapat menciptakan dilema yang luar biasa. Kemudian, banyak sekali hal-hal baru yang kuketahui dari novel ini--khususnya tentang India. Akan tetapi, sepertinya masih ada banyak hal yang harus dipoles di sana-sini untuk memperhalus cerita yang disajikan.

Kurang-lebihnya, aku cukup menikmati membaca kisah Sanju dan Raja.

2.5 bintang untuk Darjeeling.


You Might Also Like

0 comments: