2 Bintang,

Memento by Wulan Dewatra | Book Review

Wednesday, October 05, 2016 Puji P. Rahayu 0 Comments

Memento
"Memaafkan bukanlah hadiah yang kita berikan pada orang lain. Memaafkan adalah pembebasan bagi diri kita sendiri." Elgar, hlm. 258.

By Wulan Dewatra
2 of 5 stars

Genre             : Young adult, romance
Editor             : Alit Tisna Palupi
Proofreader    : Jia Effendie
Penata letak    : Gita Ramayudha
Desain sampul : Amanta Nathania
Penerbit          : Gagasmedia
Tahun terbit     : 2013
Tebal buku      : vi+266 halaman
ISBN              : 979-780-646-4
Harga              : Rp14.000,- di TM Bookstore, Depok Town Square

Aku kira bisa dengan mudah melupakanmu.

Tapi hidup kini terasa berbeda karena menjalaninya seorang diri saja.
Kau pergi dan bahagiaku tak kembali.



Saat becermin pagi ini,
aku begitu takut pada bayanganku sendiri. 
Pada memori yang berat membebani bahuku.
Pada bibirku yang tak akan pernah tersenyum lagi....


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Well, saat membaca beberapa review yang ada di Goodreads, aku cukup terkesan. Mengapa? Katanya sih, novel ini memiliki tingkat kesuraman tinggi. Awal membeli novel ini pun karena obral. Haha. Jadi, aku sebenarnya tertarik dengan novelnya, hanya saja, takut nggak puas bacanya. Jadilah, aku hanya dapat memberi dua bintang saja untuk kisah Shalom.
Shalom adalah seorang perempuan yang punya watak keras. Tidak pernah mengetahui siapa orang tuanya yang sebenarnya membuat Shalom menjadi pribadi yang menutup diri. Ia dikenal sebagai orang yang ambisius. Penampilannya yang begitu memukau membuat Wirya--teman sekantor Shalom--jatuh hati dan merelakan pertunangannya kandas. Sayangnya, hanya Harmein Khagy lah yang dapat mengetuk pintu hati Shalom. Akan tetapi cinta tulus Shalom dan Harmein harus berakhir karena Harmein dipanggil ke sisi-Nya.

Kepada Bapak, waktu tidak hanya memberi renta. Ia juga menghadiahkan kebijaksanaan. hlm. 35.

Untuk mengatasi kesedihannya, Shalom memutuskan untuk mengikuti apa kata Bapak. Ia pindah ke sebuah kota kecil untuk mengelola Indihiang I, perusahaan peternakan milik Bapak yang pertama. Di sanalah Shalom mulai berubah. Ia mulai memahami arti kehidupan dan cinta. Di sana pulalah, Shalom seakan-akan bisa melupakan Harmein selamanya karena munculnya Elgar. Sayangnya, kisah cinta Shalom dan Elgar tidak berjalan mulus. Banyak rintangan yang muncul. Dan di detik-detik terakhir, Wirya muncul menghancurkan kehidupan Shalom sepenuhnya.

Waktu memang mengikuti hukum relativitas. Cepat lambatnya tidak melulu terukur dengan detik, menit, dan jam. Namun, bergantung pada kesenangan dalam menghamburkannya. hlm. 98.

Oke. Menurutku, ide yang diangkat Wulan Dewatra cukup menarik. Tentunya, mudah sekali jatuh ke suasana suram yang dibangun oleh Wulan. Akan tetapi, aku harus menyampaikan apa yang tersangkut di pikiranku.

Jika saat menjadi orang biasa saja aku mampu berkhianat, maka aku tidak pantas menjadi orang besar. hlm. 216

Pertama, entah mengapa, aku merasa kalau cara Wulan menuliskan cerita ini terlalu berlebihan. Banyak sekali metafora-metofora yang terselip. Membuatku pusing sendiri saat membacanya. Padahal, kalau berlebihan seperti itu jadi tidak nyaman untuk dibaca.

Kedua, terkadang aku merasa kalau ada yang hilang dari cerita ini. Contohnya, kenapa Wirya tiba-tiba mengejar Shalom? Bagaimana ceritanya Shalom dan Harmein memutuskan untuk menikah? Kenapa keputusan Shalom meneirma lamaran Elgar begitu cepat? Dan kenapa Elgar selemah itu pendririannya? Yang terpenting, asal-usul Shalom sampai akhir cerita tetap tidak jelas. Entahlah. Banyak sekali stroy gap yang aku rasakan saat membaca. Menurutku, banyak hal yang tidak dijelaskan oleh Wulan.

Meskipun demikian, aku ingin memaparkan kelebihan dari novel ini.

Pertama, sampulnya cantik. Aku suka dengan konsep sampul yang sederhana seperti Memento. Cukup membuatku khilaf dan langsung membawa novel ini ke kasir.

Kedua, judulnya unik. Waktu aku cari di google, aku tidak berhasil menemukan arti dari Memento. Ada yang bisa memberi tahu aku apa artinya?

Memento-by-wulan-dewatra-book-review
Image source: google.com, edited by me
Sebenarnya, novel ini punya potensi untuk dikembangkan lebih jauh. Bukannya terburu-buru diselesaikan. Seharusnya, kehidupan Shalom yang dibahas tidak terlalu terpencar-pencar. Sehingga, bisa lebih terfokus pada satu masalah. Secara pribadi, aku ingin tahu lebih jauh bagaimana kisah cinta Shalom dan Harmein. Menurutku, kok agak nanggung kalau kisah mereka hanya menjadi sekadar intro.

Jujur saja, sosok Shalom di sini menjadi sosok yang begitu complicated. Masalah dia banyak dan tidak terasa terselesaikan semuanya. Aku jadi bingung sendiri mau berkomentar apa.

Well, kalau kalian ingin membaca novel dengan suasana suram, Memento bisa menjadi pilihan.

2 bintang untuk sosok Harmein Khagy yang baik hati :3


You Might Also Like

0 comments: