3 Bintang,

An Old-Fashioned Girl by Louisa May Alcott | Book Review

Thursday, August 04, 2016 Puji P. Rahayu 0 Comments

An Old-Fashioned Girl
"Simpan rapat-rapat harga diri kalian dan ingatlah kemiskinan bukanlah hal yang memalukan. Yang memalukan adalah ketidakjujuran."

By Louisa May Alcott
3 of 5 stars

Penerjemah      : Nadiah Abidin
Penyunting       : Azzura Dayana
Desain sampul : Windu Tampan
Penata letak     : Lian Kagura
Penerbit           : Orange Books
Tahun terbit     : Oktober 2010, cetakan pertama.
Tebal buku       : 436 halaman
ISBN                : 9786028851008
Harga               : Rp20.000,- di obral buku TB. Gramedia Basuki Rahmat, Malang.

“Aku takkan menghalangi kebahagiaanmu, Fanny... Aku takkan berjalan bersama Mr. Sydney lagi. Aku akan menghindar dan mengambil jalan berputar supaya kami tidak bertemu, sehingga kau tidak akan sakit hati...”

Itulah keputusan Polly Milton, setelah ia mengetahui rahasia perasaan Fanny, teman baiknya. Polly pun memilih untuk melewati jalan-jalan belakang yang membosankan tanpa taman bersimbah cahaya pagi, demi menghindari seseorang yang dulu selalu mencerahkan hari-harinya. Seorang pemuda baik hati yang banyak disukai gadis-gadis.

Polly merasa, pengorbanannya tak akan mengurangi apapun. Ia tetap bisa berbahagia dengan kegiatannya mengajar musik, menjahit pakaian, dan membaca buku. Tidak seperti Fanny dan teman-temannya, Polly memang gadis yang sangat bersahaja. Polly juga yakin, cinta yang tulus pasti akan ia temukan dengan sendirinya, di saat yang tepat.

Namun benarkah Polly mampu melupakan Mr. Sydney? Atau akankah ada pemuda lain yang mampu menambat hatinya?

***

Satu hal yang menyenangkan saat akhirnya aku bisa membaca karya dari Louisa May Alcott. Sebenarnya, aku tidak sengaja menemukan buku ini saat mengunjungi toko buku. Awalnya, aku memang tidak menaruh minat untuk membelinya. Akan tetapi, ada embel-embel "penulis novel best seller Little Women", aku pun mengubah pikiranku dan langsung mengambil novel ini.

Membaca judulnya saja, sudah bisa ditebak kalau buku ini menceritakan kisah seorang gadis dengan gaya berpakaian yang kuno dan tidak seperti gadis-gadis lainnya. Prinsip Polly Milton yang selalu berusaha bersikap sederhana meskipun berada di lingkungan elite mendominasi buku ini. Cerita ini bermula dari kunjungan Polly ke rumah Keluarga Shaw. Polly yang bisa dibilang berasal dari desa harus menyesuaikan diri dengan kehidupan kota. Temannya, Fanny, mencoba untuk mempengaruhi Polly agar bersikap layaknya gadis-gadis kota. Akan tetapi, keteguhan hati Polly mengalahkan segalanya. Polly tetap menjadi dirinya sendiri.

Dalam buku ini, Alcott tidak hanya menceritakan kehidupan sederhana Polly. Ia juga membahas tentang masalah di Keluarga Shaw. Mulai dari Mr. Shaw yang harus banting tulang untuk mencukupi kehidupan keluarga, Tom--kakak Fanny--yang sibuk dengan dunianya sendiri, Maud yang masih muda dan selalu minta diperhatikan, dan Mrs, Shaw yang tubuhnya lemah karena syaraf. Polly sebagai pendatan baru di rumah itu, perlahan mengembalikan kegembiraan dan kasih sayang di Keluarga Shaw. Bahkan, Mr. Shaw menganggap Polly sebagai anaknya sendiri.

"Ah, menurutku tidak. Kita takkan pernah terlalu tua untuk mencium ayah dan ibu kita." Polly.

Enam tahun berlalu sejak kedatangan Polly pertama kali ke kediaman Keluarga Shaw. Polly bekerja sebagai guru musik privat untuk beberapa anak. Dalam kesederhanannya, Polly dihadapkan oleh masalah yang ia kira tidak akan pernah menghampiri hidupnya. Masalah laki-laki yang menyukai dirinya, Mr. Sidney. Berbagai cara dilakukan Polly untuk menghindari Sidney. Usaha Polly lumayan membuahkan hasil, meskipun dalam hati Polly merasa sangat kesepian.

Pertama kali aku membaca novel ini, satu kesimpulan yang mengawang di pikiranku. Terjemahannya kaku banget dan banyak bahasa-bahasa aneh yang bertebaran. Aku nggak tahu sih gaya penceritaan Alcott seperti apa, tapi kok ya rasanya terjemahannya ini benar-benar bikin semangatku untuk membaca buku ini menjadi turun drastis. Untungnya, setelah aku mencapi setengah buku, aku sudah mulai bisa menikmati cerita yang disajikan. Meskipun terkadang aku masih mengernyit heran karena ada kata-kata yang menurutku aneh.

"Seorang anak kecil pun bisa membawa pengaruh besar dan memberikan kebaikan dalam dunia yang besar dan sibuk ini"

Kalau boleh jujur, konsep sampulnya lumayan. Lumayan menggambarkan isi ceritanya. Aku bisa membayangkan sosok gadis di sampul itu Polly. Tapi, aku lebih senang kalau sampulnya tidak menampilkan gambar orang. Dibuat sederhana saja karena bentuk font untuk judulnya sudah cukup menarik hati. Apalagi membawa embel-embel Little Women.

Secara keseluruhan, karya klasik ini menarik. Cerita yang ditawarkan cukup membuatku betah membacanya. Meksipun kalau aku boleh bilang, aku tidak nyaman dengan terjemahannya. Selain itu, ada juga hal yang cukup menggangguku. Entah karena aku membaca yang versi terjemahan atau bagaimana, tapi aku cukup bertanya-tanya, kenapa sih penulisnya sering banget memasukkan sudut pandang dirinya? Iya. Di tengah-tengah, terkada Alcott menyebut dirinya sebagai 'aku'. Menurutku, hal itu agak nggak wajar dan jadi aneh. Untungnya, tidak terlalu banyak Alcott menggunakan metode ini untuk menceritakan ceritanya.
Image source: here, edited by me.
Yang paling aku suka dalam novel ini adalah banyak karakter yang mengalami perkembangan dengan baik. Maud yang awalnya cengeng dan manja, lambat-laun menjadi gadis remaja yang bisa diandalkan. Bahkan, dalam pekerjaan rumah, Maud lebih berbakat dibandingkan Fanny. Di lain sisi, Fanny yang sebelumnya sangat angkuh dan menyebalkan, menjadi  gadis yang lebih kalem dan penyayang. Meskipun aku sempat sebal padanya, aku cukup senang dengan persahabatan antara Fanny dan Polly. Oh ya, kalau kalian berpikir bahwa Mr. Sidney akan mendapat porsi besar dalam buku ini, maka kalian akan sedikit kecewa. Mr. Sidney yang menciptakan huru-hara itu tidak terlalu banyak muncul. Bahkan, lebih banyak 'hanya' diceritakan oleh tokoh lain.

Hal yang cukup membuatku bersedih juga adalah, kisah cinta antara Tom dan Polly. Menurutku, Alcott lebih berfokus pada kehidupan sehari-hari mereka. Bukan kisah cintanya :( Jadi, agak terkesan terburu-buru waktu mereka akhrinya mengaku saling cinta. Sebenarnya, aku sudah menduga kalau Tom yang akan menjadi pasangan Polly. Tapi sekali lagi, proses jatuh cinta mereka menurutku terlalu sederhana.

Yaa, terlepas dari berbagai hal yang aku sebutkan, menurutku, karya Louisa May Alcott ini menarik. Ceritanya sederhana dan banyak memberikan pelajaran buat kita. Aku senang bisa membacanya sampai habis.

3 bintang untuk persahabatan Polly dan Fanny serta cerita Nenek yang ceria.


You Might Also Like

0 comments: