Astrid Isnawati,

Just Like Heaven (Seindah Mimpi) by Julia Quinn | Book Review

Friday, July 01, 2016 Puji P. Rahayu 0 Comments

Just Like Heaven
(Seindah Mimpi)

Smythe-Smith Quartet #1
By Julia Quinn

3 of 5 stars

Image source: here
Alih Bahasa      : Ellyanti Jacob Saleh
Editor                : Astrid Isnawati
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit     : Oktober 2013, cetakan ketiga
Tebal Halaman : 432 halaman
ISBN                 : 9799792298529
Pinjam di iJak


Honoria Smythe-Smith:

A) pemain violin yang buruk
B) masih kesal karena dipanggil “Bug” saat masih kecil
C) TIDAK jatuh cinta kepada sahabat kakaknya
D) semua yang di atas

Marcus Holroyd:
A) Earl of Chatteris
B) mudah terkiilir
C) TIDAK jatuh cinta kepada adik sahabatnya
D) semua yang di atas

Bersama-sama mereka:
A) suka makan tar cokelat
B) selamat dari demam mematikan dan pertunjukan musik terburuk di dunia
C) saling jatuh cinta setengah mati

Kisah cinta merupakan keahlian Julia Quinn, jadi tentu saja jawabannya. . .
D) semua yang di atas


***

Berhubung aku baru saja selesai membaca Antologi Rasa di iJak, otomatis aku penasaran dong dengan bacaan lainnya. Dan tiba-tiba saja, aku menemukan novel ini. Julia Quinn merupakan salah satu penulis novel roman yang sering aku dengar. Hanya saja, baru kali ini aku punya kesempatan untuk membaca karya Quinn.



First Impression
Tentunya, membaca novel bergenre historical romance mengingatkanku pada karya-karya Lisa Kleypas. Jujur, aku jatuh cinta pada karya Kleypas dan aku berharap dapat menimbulkan kesan yang sama saat aku membaca karya Julia Quinn. Sebenarnya, aku agak aneh saat melihat sinopsis yang tersemat di belakang buku. Menurutku, sinopsis tersebut belum menggambarkan kisah di novel ini akan seperti apa. Yaa, berhubung perjuangan untuk mengantre di iJak lumayan sulit, akhirnya aku memutuskan untuk meminjam novel ini.


The Appearance
Hem, menurutku sampul dari novel bergenre historical romance terbitan Gramedia Pustaka Utama selalu unik. Aku suka dengan konsep yang diterapkan. Apalagi, ilustrasinya juga bagus. Perempuan yang sedang bermain biola itu seolah-olah memang menggambarkan karakter di dalam novel. Meskipun aku membaca dalam bentuk ebook, tapi aku tahu kalau novel ini merupakan jenis novel pocket. Tentunya, jenis novel ini menjadi lebih mudah untuk dibawa kemana-mana.

The Summary
Honoria Smyth-Smith merupakan anak bungsu dalam Keluarga Smyth-Smith. Sewaktu kecil, ia sering mengganggu kakaknya, Daniel Smyth-Smith, dan temannya, Marcus Holroyd. Secara sekilas, dapat dibilang kalau Honoria merupakan seorang gadis yang penuh rasa ingin tahu. Satu ciri khas yang aku ingat dari Honoria adalah kemampuannya untuk terus berbicara tanpa henti. 

Marcus Holroyd merupakan seorang earl yang kurang pandai bergaul. Satu-satunya sahabat yang ia miliki adalah Daniel. Karena keluarganya yang cenderung tidak peduli akan Marcus, biasanya Marcus menghabiskan waktunya di tengah-tengah Keluarga Smyth-Smith. Sejak saat itu pula, Marcus mendapatkan kepercayaan dari Daniel untuk menjaga Honoria.

Kepercayaan tersebut pulalah yang membawa inti ceritanya muncul. Suatu ketika, Honoria dan sepupu-sepupunya mengadakan pesta di Cambridge. Marcus yang merasa bertanggung jawab dengan segala hal yang menyangkut Honoria, akhirnya memutuskan untuk mengawasi Honoria. Sayangnya, usaha mengawasi ini malah menyebabkan Marcus cedera dan membuat Honoria panik setengah mati.

Sebagian besar cerita dalam novel ini mengisahkan masa perawatan Marcus yang dilakukan oleh Honoria dan Lady Winstead--ibu Honoria. Pada saat merawat Marcus inilah, Honoria merasakan hal yang berbeda terhadap Marcus. Begitu pula sebaliknya. Sayangnya, Honoria mengetahui kenyataan bahwa selama ini Marcus lah yang menjadi penghalang bagi lamaran Honoria.

The Point of View, Setting, and Plot
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga. Kalau aku melihatnya, sudut pandang ini seimbang. Baik dari sudut pandang Marcus maupun Honoria komposisinya sudah pas dan seimbang. Tidak ada dominasi dari sudut pandang tersebut.

Latar tempat yang diambil adalah Inggris. Aku heran, deh. Kenapa banyak sekali novel bergenre historical romance yang mengambil latar ini, ya? Apakah sudah menjadi kebiasaan? Atau aku yang belum baca banyak? Ahh. Mungkin yang kedua. Sedangkan, latar waktu yang diambil adalah abad awal 19.

Untuk alur sendiri, Julia Quinn memilih untuk menggunakan alur maju. Seingatku, tidak ada sekali pun flashback yang diceritakan. Jadi, kita bisa membaca perkembangan karakter dari awal sampai akhir.

Image source: tumblr.com, edited by me
The Opinion
Sebenarnya, aku merasa tidak terlalu excited saat membaca novel ini. Entah mengapa, cerita yang disajikan terlalu datar. Konfliknya kurang mengena. Bahkan, aku sedikit bosan saat membaca bagian Honoria merawat Marcus.

Setelah itu, ada juga hal yang cukup lucu dalam novel ini. Bagaimana mungkin seseorang melakukan--what I supposed to say?--pembedahan kaki tanpa pengalaman sebelumnya? Kalau semisal salah potong kan dapat menimbulkan masalah yang lebih berat. Atau mungkin di zaman itu hal tersebut sudah menjadi hal yang biasa?

Secara keseluruhan, novel ini merupakan novel yang pure romance. Dari awal, tidak ada konflik lain selain konflik di antara dua karakter utama. Konllik perasaan pula. Menurutku, gaya Julia Quinn dalam menulis novel bergenre ini memang benar-benar pure romance. Tidak seperti Lisa Kleypas yang menambahkan sentuhan kisah lain dalam novelnya.

The Last Impression
Terlepas dari beberapa kekurangan yang sudah aku sebutkan, aku masih menyukai membaca novel ini. Meskipun terkadang aku sebal dengan alur yang terkesan lambat, tapi cerita ini masihlah unik. Lagipula, aku suka dengan pertunjukan kuartet yang disajikan. Membuatku penasaran lebih lanjur dengan kisah Smyth-Smith lainnya.

The Conclusion
Kalau kamu ingin tahu lebih jauh tentang kisah roman abad 19 di Inggris, kamu bisa mulai dengan membaca novel ini. :3

3 sayap untuk kemunculan Daniel di akhir cerita.




You Might Also Like

0 comments: