Contemporary Romance,

Antologi Rasa by Ika Natassa | Book Review

Wednesday, June 29, 2016 Puji P. Rahayu 0 Comments

Antologi Rasa
"You know what, Risjad, kalau lagi nggak berusaha tebar pesona setengah mati, elo itu adorable juga, ya."—Keara

By Ika Natassa
3 of 5 stars

Source: goodreads.com
Penyunting        : Rosi L. Simamora
Desain Sampul  : Ika Natassa
Penerbit             : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : Agustus 2011
ISBN                 : 9789792274394
Pinjam di iJak

K e a r a



Were both just people who worry about the breaths we take, not how we breathe.
How can we be so different and feel so much alike, Rul?
Dan malam ini, tiga tahun setelah malam yang membuatku jatuh cinta, my dear, dan aku di sini terbaring menatap bintang-bintang di langit pekat Singapura ini, aku masih cinta, Rul. Dan kamu mungkin tidak akan pernah tahu.
Three years of my wasted life loving you.

R u l y

Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah bahwa sampai sekarang gue merasa mungkin satu-satunya momen yang bisa mengalahkan senangnya dan leganya gue subuh itu adalah kalau suatu hari nanti gue masuk ke ruangan rumah sakit seperti ini dan Denise sedang menggendong bayi kami yang baru dia lahirkan. Yang tidak gue ceritakan ke Keara adalah rasa hangat yang terasa di dada gue waktu suster membangunkan gue subuh itu dan berkata, "Pak, istrinya sudah sadar," dan bahwa gue bahkan tidak sedikit pun berniat mengoreksi pernyataan itu. Mimpi aja terus, Rul.

H a r r i s

Senang definisi gue: elo tertawa lepas. Senang definisi elo? Mungkin gue nggak akan pernah tahu. Karena setiap gue mencoba melakukan hal-hal manis yang gue lakukan dengan perempuan-perempuan lain yang sepanjang sejarah tidak pernah gagal membuat mereka klepek-klepek, ucapan yang harus gue dengar hanya, "Harris darling, udah deh, nggak usah sok manis. Go back being the chauvinistic jerk that I love."
Thats probably as close as I can get to hearing that she loves me.


Tiga sahabat. Satu pertanyaan. What if in the person that you love, you find a best friend instead of a lover?

***

Selama aku bergabung menjadi bagian dari Blogger Buku Indonesia, sempat berkali-kali aku mendengarkan diskusi mengenai iJak. Puncaknya, pada saat aku bantu-bantu jadi reporter abal-abal di Pesta Pendidikan 2016, aku baru sepenuhnya mengenal iJak. Awalnya, kupikir iJak hanya tersedia untuk pemakai smartphone android dan iOs, nyatanya, aplikasi yang didominasi warna oranye ini bisa diinstall di PC. Woooh, aku senang banget, dooong. Jadilah, novel yang tidak sengaja muncul di kolom rekomandasi ini yang kubaca duluan. Hehe. Selain fakta karena aku suka dengan Critical Eleven, aku penasaran aja dengan karya Ika Natassa sebelumnya. Aku pengin tahu bagaimana gaya menulis Ika Natassa yang lumayan diagung-agungkan ini. 

If Travel teaches us how to see, how come every time all I see is you?--hlm. 63.

First Impression
Berhubung aku sering banget mendengar tentang komentar dari tulisannya Ika, aku sudah punya firasat mengenai banyaknya bahasa campur-aduk yang digunakan serta berbagai macam merk branded yang disebutkan. Dulu sih, banyak yang menyamakan--atau setidaknya selalu membandingkan--tulisan Ika dengan Nina Ardianti. Katanya, mirip gitu. Tentang bankir dan kehidupan sosialitanya. Jadi, impresi awalku dari novel ini adalah, aku akan menemukan cerita yang super duper hopeless romantic. Tentunya, dengan karakter yang adorable dan nantinya memiliki ending yang bahagia.

The Appearance
Sebenarnya, desain sampul dari Antologi Rasa ini menarik. Maksudku, sederhana tapi ngena. Bahkan, warna latarnya pun pas dengan gambar jantungnya. Yang paling bikin sedih ya gambar hatinya sih, literally menggambarkan semua perasaan campur aduk yang disajikan di dalam cerita.

The Summary
Berawal dari kisah Keara Tedjakusuma dan Harris Risjad, dua orang sahabat yang melakukan perjalanan ke Singapura dalam rangka menonton balapan F1. Awalnya, kedua orang ini akan pergi bersama Ruly Watalanga yang juga merupakan sahabat Keara dan Ruly sejak mereka pernah ditempatkan di daerah antah-berantah bersama-sama. Bersama dengan Denise juga pada saat itu. Intinya, rencana Keara, Harris, dan Ruly untuk menonton F1 tidak berjalan sesuai dengan rencana. Ruly tiba-tiba tidak bisa ikut dan akhirnya hanya Keara dan Harris saja yang berangkat ke Singapura pada waktu itu.

Meet Keara. Seorang perempuan yang memiliki sejuta pesona dan bisa dipastikan dapat membuat semua laki-laki straight khilaf dan laki-laki gay menjadi straight. Jenis perempuan sosialita yang sangat mengedepankan penampilan dan memiliki hobi fotografi. Dengan track record sebagai perempuan yang begitu mempesona, ada satu hal yang tetap membuat Keara--what should I say?, nggak bahagia. Semua ini karena perasaannya yang tak terbalaskan, dan diam-diam tentunya, terhadap Ruly.

Meet the handsome-self-proclaimed Harris Risjad. Bisa dibilang, Harris merupakan sahabat Keara yang paling dekat. Setiap Keara butuh apa-apa, Harris akan membantu Keara sepenuh hati. Bahkan, rela direpotin malam-malam kalau semisal Keara membutuhkan sesuatu. Ia merupakan sosok laki-laki yang begitu dipuja. Mungkin, sikap player Harris sudah dikenal oleh ribuan perempuan di Ibukota. Lagi-lagi, seorang Harris Risjad yang dipuja oleh berbagai macam perempuan ini, ternyata tak bisa sekali pun menarik perhatian sahabatnya sendiri, Keara. Cinta matinya Harris yang sampai kapan pun, sulit untuk disampaikan for the sake of friendship.

Then, meet Ruly. Idola Keara. Seorang laki-laki yang membuat Keara bertekuk lutut. Padahal, Ruly bukanlah jenis laki-laki yang biasanya disukai Keara. Bisa dibilang, kepribadian Ruly dengan Keara itu berbeda jauh. Ruly adalah tipe laki-laki alim yang menyentuh wine pun tidak. Mungkin, Ruly adalah definisi yang sempurna untuk suami idaman bagi Keara. Sayangnya, perasaan Ruly tidak jatuh pada Keara. Dari awal, Ruly tetaplah Ruly yang mencintai Denise. Meskipun Denise sudah menikah, Ruly tetap mencintainya dan tidak akan pernah berubah.

Perjalanan singkat di Singapura yang dilakukan oleh Harris dan Keara, membawa perubahan besar dalam persahabatan mereka. Salahkan berbagai macam minuman beralkohol yang ditenggak oleh Harris dan Keara, atau perasaan Keara yang kacau balau karena Ruly, atau perasaan Harris yang tercabik-cabik saat melihat Keara, they finally did that. They are fucking each other yang pada akhirnya membuat Keara marah dan menyalahkan Harris. Padahal, di hari-hari sebelum kejadian itu, kondisi persahabatan Harris dan Keara begitu erat. Harris yang rela menemani Keara hunting foto dan belanja, serta Keara yang menemani Harris untuk menonton balapan F1. But, unfortunately, that condition after they are too much drunk, makes Keara hate Harris so much. Even, she don't want to meet Harris again.

Selain ketiga karakter utama tersebut, muncul pula beberapa karakter yang memiliki peranan yang cukup signifikan. Dinda, sahabat Keara yang terus-terusan memberi nasihat pada Keara, meskipun dengan cara yang keras melalui sindiran. Panji Wardhana, Keara's rebound? adik ipar Dinda yang dimanfaatkan oleh Keara untuk mengalihkan pikiran dari seorang Ruly. Kemal, suami Denise yang minta ditujes-tujes karena sikapnya yang sama sekali nggak adorable.

"This whole game, Key. I hope you know about what you're doing."--hlm. 139.

The Point of View, Setting, and Plot
Seperti yang aku ingat dari Critical Eleven, novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama dan diceritakan secara bergantian. Mulai dari Keara, Harris, Ruly, hingga Panji. Meskipun memang lebih banyak didominasi oleh sudut pandang Keara. Dari keempat sudut pandang itu, aku lebih suka dengan sudut pandang Harris. Oke, oke. Don't blame me, I have some feeling with this Risjad man. Haha. Ehh, hubungannya dia dengan Aldebaran Risjad apaan ya? O.o Dan yang paling nggak aku suka itu, mungkin Keara. Hahaha. Iya, sepanjang sudut pandang Keara nih, banyak bangat kalimat yang dimiringkan, which is, bahasanya campur aduk. Sebenarnya aku nggak keberatan sih, tapi aku merasa too much aja bahasa campur aduknya. Terus, aku juga agak-agak gimana gitu karena penyebutan barang bermerknya seabrek. Bikin aku yang buta fashion dan mode cuma mengernyitkan dahi waktu baca.

Latar yang digunakan adalah Jakarta. Yaa, sebagai tempat kaum urban tumbuh dan berkembang, cocok lah kota ini menjadi latar kisah Keara-Harris-Ruly ini. Kebanyakan sih memang mengambil tempat yang aku pernah dengar dan kunjungi--kalau cuma Pacific Place mah aku pernah mampir. Selain Jakarta, Ika Natassa juga mengambil latar di Singapura, Bali, Manila, dan daerah antah berantah tempat Keara, Harris, Ruly, dan Denise ditempatkan. Lalu, latar waktu yang diambil adalah tahun 2000-an. So much hedonist life, right? 

Source: here, edited by me
Sebagian besar, alur yang digunakan oleh Ika adalah alur maju. Dengan beberapa selingan ingatan masa lalu Keara maupun Harris. Awalnya alur ini berjalan lambat. Like, aku harus nebak-nebak ini cerita mau dibawa kemana. Tapi pada akhirnya, di bagian akhir, aku merasa kalau alurnya tiba-tiba jadi cepat dan aku sampai bingung, hah? Cuma segini aja nih ceritanya?

Tempus Fugit, non autem memoria. --hlm. 148.

The Opinion
Sebenarnya, aku suka dengan gaya berceritanya Ika Natassa. Gaul gitu dan memang pas buat perempuan-perempuan pecinta roman. Sayangnya, bahasa campur aduk yang digunakan oleh Ika menurutku too much. Apalagi, banyak banget dia ngasih referensi-referensi yang bahkan nggak bisa aku ingat. Kesannya kok too much banget.

Untuk ceritanya sendiri, I do love Risjad. Haha. Bias banget ya pendapatnya? Ya tapi mau gimana lagi? Aku memang suka dengan karakter Harris. Tipe-tipe bad boy yang insyaf saat bertemu dengan orang yang dicintainya. Tapi, aku nggak sreg sama eksekusi ending kisah Keara-Ruly-Harris. Aku merasa Ika terlalu tergesa-gesa dalam mengakhiri novel ini. Apakah faktor jumlah halaman jadinya begini? Aku juga nggak tahu. Yang pasti, aku sempat bingung di akhir-akhir. Aku banyak bertanya, kok tiba-tiba si ini jadi begini, sih? Kenapa? Kok bisa? Banyak banget deh pokoknya. 

Seharunya nih, ada penjelasan lebih lanjut gimana akhir kisah Keara-Harris-Ruly ini. Seharusnya, yaa. Akan lebih baik kalau jelas akhir hubungan mereka ini. Soalnya, menurutku akhir dari novel ini masih gantung-gantung lucu. Jadinya, kurang puas waktu baca akhir dari novel ini. By the way, emosiku sempet campur aduk waktu Harris tahu kalau Keara dan Ruly jadian. Sumpah. Aku bisa ngerasain gimana perasaan Harris yang berdarah-darah. Poor him :( 

"Hidup ini udah susah. Tapi dengan kamera ini, gue bisa memilih mana yang mau gue inget dan mana yang nggak."--hlm. 163

The Last Impression
Dalam beberapa hal, aku memang merasakan kemiripan dari gaya menulis Ika Natassa dengan Nina Ardianti. Tapi nggak semirip itu juga. Sedikit mengingatkanku lho yaa. Hehe. Secara keseluruhan, aku suka dengan cara Ika menceritakan kehidupan kaum urban seperti Keara, Harris, dan Ruly. Despite beberapa kekurangan yang udah aku singgung di atas, cerita yang disajikan Ika masih bisa membuatku gemas karena kelakuan tokohnya. Masih bisa membuatku baper setengah mampus gara-gara penggambaran perasaannya, especially Risjad. Yaa, pokoknya aku masih suka lah.

The Conclusion
Kalau kamu merasa pecinta roman kontemporer dan tahan dengan cerita yang drama abis, Antologi Rasa bisa menjadi pilihan bacaan kamu.

Tiga sayap  untuk persahabatan Harris dan Keara yang begitu menggemaskan.


You Might Also Like

0 comments: