Ally Jane,

Unspeakable Love by Ally Jane dan Kuro Hime | Book Review

Wednesday, April 20, 2016 Puji P. Rahayu 0 Comments

Unspeakable Love
“There's no reason to hurt someone you love. He hurt me, too many times. Then he doesn't love me. Enough,”—Clara.

By Ally Jane dan Kuro Hime

2.5 of 5 stars

Editor                    : Pradita Seti Rahayu
Penerbit                : Elex Media Komputindo
Tebal halaman      : 168 halaman
Tahun terbit          : 2014
ISBN                    : 9786020246642

Should I tell you that I love you? 

Or it gonna be an unspeakable love? 

Kiera dan Clara adalah dua sahabat yang sama-sama memendam rasa pada cowok impian. Ya, cinta terselubung judulnya. Kiera pada Rado, Ce El--panggilan akrab Clara--pada Uzie. Mereka berempat setiap hari berada di dalam ruang yang sama, yakni di kelas akselerasi di sebuah SMP favorit.

Bertahun-tahun memendam rasa, Kiera dan Clara tergoda untuk mengungkapkannya. Tapi, Ce El harus memupuskan harapan karena Uzie pergi untuk waktu yang sangat lama. Ce El menyesal.

Apa Kiera siap mengatakannya pada Rado?
Atau ia akan menyesal juga karena tak pernah mengungkapkannya?

Bahkan Pangeran Pelangi itu bertanya padaku, siapakah yang sedang mengisi hati ini, tanpa tahu bahwa jawabannya adalah ... dia.

***


Teen Spirit merupakan salah satu jenis genre yang disediakan oleh Elex Media Komputindo. Novel bergenre teen spirit tentunya disesuaikan bagi anak-anak berumur remaja. As in literally teen. Tak heran kalau Unspeakable Love mengambil tema percintaan di kalangan anak SMP. Faktor bahwa penulisnya masih duduk di bangku SMP membuat karakteristik dari novel ini cukup kuat.

Baiklah. Aku mungkin hanya gadis remaja bodoh yang tidak punya keberanian untuk mengungkapkan yang sudah kupendalam selama tiga tahun terakhir ini.
Dari segi kaver, aku suka konsepnya. Menyandang status sebagai novel bergenre teen spirit, tentunya membuah novel dengan kaver kelinci kecil berwarna putih. Warna kaver yang dipilih menurutku juga menarik. Sebenarnya, konsep kaver yang ditawarkan sudah cukup mewakili tentang isi cerita. Tentang cinta yang tak dapat diucapkan. Lalu, ada pula sebuah cahaya kecil yang dilihat oleh si kelinci putih. Menandakan kalau memang ada harapan yang tersisa bagaimana pun bentuknya. Sedangkan, untuk layout novelnya, aku rasa terlalu ramai. Dalam artian, gambar-gambar hati di dalamnya sedikit menganggu saat dibaca. Apalagi warna kertasnya pun digelapkan. Aku jadi merasa kurang nyaman saat membacanya.

Unspeakable Love merupakan satu novel yang ditulis oleh dua penulis. Di dalam novel ini terdapat tiga bagian. Bagian pertama menceritakan kisah dari sudut pandang Kiera; Bagian kedua dari sudut pandang Clara; dan bagian ketiga merupakan bonus cerita pendek.

Source: here, edited by me
Inti dari ketiga cerita tersebut sebenarnya sama. Sang tokoh utama enggan untuk mengungkapkan perasaannya pada orang yang ia sukai. Kiera yang memendam rasa pada Rado tidak pernah mau untuk mengungkapkan perasannya. Meskipun berkali-kali sahabatnya, Clara, mendorong Kiera untuk jujur, nyatanya Kiera tetap enggan. Sampai suatu kejadian membuat Kiera akhirnya berani menyatakan perasaannya. 

Di lain sisi, Clara pun memiliki masalah yang sama. Sayangnya, nasib Clara tak seberuntung Kiera. Uzie, orang yang disukai Clara, harus pergi untuk waktu yang lama. Clara pun patah hati dan berusaha move on. Saat itulah, muncul sosok lain yang selalu bersliweran di kehidupan Clara. 

Konsep yang disajikan oleh Unspeakble Love sebenarnya cukup menarik. Mengambil kisah dua sahabat yang memiliki masalah serupa. Penulisan novel ini sepertinya dilakukan secara terpisah. Sehingga, aku sangat menghargai usaha Ally Jane dan Kuro Hime dalam menyatukan kisah Kiera dan Clara. Sayangnya, menurutku alur dari cerita ini terlalu lambat. Bahkan, ada beberapa bagian yang terkesan lompat-lompat dan tidak runtut. Otomatis, hal ini membuatku sedikit bingung saat membacanya.

Selain itu, aku juga menemukan perbedaan karakter dari Clara. Di cerita dari sudut pandang Kiera, sikap Clara jauh berbeda dari cerita dari sudut pandang Clara. I found some missing link here. Setelah itu, entah bagaimana ceritanya, pengaruh media sosial di cerita ini masih begitu kental. Aku merasa tidak nyaman sih bacanya. Bagaimana pun, agak tidak masuk akal aja ada orang yang mengekspresikan seluruh perasaannya di media sosial. 

Dan ... aku bahagia. Sangat bahagia.
Meskipun masih banyak kekurangan di sana sini, aku sangat mengapresiasi usaha kedua penulis untuk menuliskan kisah ini secara utuh. Mereka berhasil merangkai satu cerita yang bersinggungan. Sayangnya, novel ini not my cup of tea.  Tapi mungkin, untuk sekadar bacaan santai, novel ini dapat dibaca. Lumayan, nostalgia zaman SMP yang masih alay.

--
Depok, 20 April 2016
12.46 AM


You Might Also Like

0 comments: