Andriyani,

Nightfall by Robin Wijaya | Book Review

Thursday, March 31, 2016 Puji P. Rahayu 0 Comments

Nightfall

By Robin Wijaya
2.5 of 5 stars

Penerbit                      : Elex Media Komputindo
Editor                          : Andriyani
Tebal halaman            : 289 halaman
Tahun terbit               : 2014
ISBN                           : 9786020252056


Sebeuah pertemuan tidak sengaja dapat berakhir dengan begitu menyenangkan

Indonesia
Sebaris kalimat, sebuah undangan, dan luka pengkhianatan yang belum sembuh. Ada hal-hal yang membuat Natalie memutuskan untuk menerima uluran tangan Kris. Sikap pria itu membuatnya yakin kalau ia sanggup keluar dari bayang-bayang masa lalu.

Seattle
Bagi Kris, obrolan dengan Natalie telah menjelma satu bentuk perasaan baru. Pria itu menagih kesepakatan: sebuah pertemuan kembali. Ketika temu dan harap menyatukan rasa, seorang pria dari masa lalu meluruhkan janji yang telah dibuat Natalie.

Richland
Ada satu celah kosong bernama kehilangan. Benjamin membutuhkan seorang teman, dan Natalie pernah mendiami tempat itu dulu. Ia ingin Natalie hadir untuk sekadar menengok kenangan, namun siapa yang bisa mengendalikan perasaan? Natalie dan Kris sadar cinta mereka yang masih dini, bisa rapuh karena kenangan itu.

REVIEW:
Novel ini merupakan novel yang aku dapatkan dari giveaway yang diadakan oleh Stephanie Sugia di blognya. Hehe. Nggak nyangka loh, kalau aku bisa beneran dapet. Kirain enggak.

Aku sebenarnya pernah baca sekilas cerita ini di blog pribadi milik Robin Wijaya. Ketika aku tahu cerita itu menjelma sebagai satu novel utuh, jadilah aku langsung berburu novel yang satu ini.

THE FIRST LINE
Tidak ada alasan lagi untuk menolak undangan dari seorang teman baik yang jaraknya ribuan mil di seberang sana.

The Appearance:
Sebenarnya konsep kavernya bagus, but in someway, kurang artistik menurutku. Apa ya yang kurang? Konsep terbelah tiga itu menurutku kurang nendang. Heu. 

Tapi aku suka kok sama gambarnya. Menggambarkan Seattle banget. Hehe

The Summary:
Dalam novel ini, ada tiga tokoh utama yang akan bersliweran dari awal sampai akhir cerita. Natalie, Kris, dan Ben. Hal yang cukup menarik dari novel ini adalah gaya bercerita yang memfokuskan salah satu pihak.

Diawali dari kisah Natalie yang menemukan kenyataan bahwa pacarnya, Gio, berselingkuh dengan perempuan lain. Karena hal ini, liburan yang telah direncanakan dengan rapi di Eropa pun terpaksa berubah. Natalie berusaha untuk menjauh dari Gio apa pun yang terjadi. Pada saat di bandara, di sanalah Natalie bertemu dengan Kris, seorang kurator seni asal Seattle. Tanpa sadar, keduanya terlibat obrolan seru dan pada akhirnya berujung dengan Kris yang mengundang Natalie untuk berkunjung ke Seattle.

Setelah memikirkan dengan matang, Natalie memutuskan untuk memenuhi udangan Kris. Akan tetapi, Natalie merasa harus berkunjung ke kediaman Ben—sahabatnya di masa lalu yang dilanda depresi karena ditinggal mati pacarnya, Stefania. Dari sinilah cerita ini mulai berkembang. Mulai dari perasaan Ben yang lambat-laun mulai berubah, hingga hubungan Kris dan Natalie yang tiba-tiba berkembang dengan luar biasa.

Selain itu, ada juga beberapa tokoh lain yang punya peran masing-masing dalam novel ini. Ada Gabriel (Kakak Natalie), Sarah (Sahabat Kris), Yusuf dan Susan (Orang tua Ben), serta Peter dan Jess.

The Opinion
Kalau boleh jujur, aku merasakan keanehan dari novel ini. Menurutku, gaya bercerita Robin pada bagian Ben terasa sangat lambat. Aku sampai kurang betah membacanya. Kemudian, aku merasa kok aneh aja Natalie dan Kris bisa punya perasaan secepat itu. Intinya, aku merasa eksekusi dari cerita ini sedikit terburu-buru. Lalu, aku merasakan penjelasan siapa Ben tidak terlalu kentara di awal-awal cerita. Aku jadi bingung dan sibuk menerka siapa Ben sebenarnya.

Ahh, tapi aku suka dengan penggambaran hubungan persaudaraan Natalie dan Gabriel. Kesannya mereka berdua sangat caring. Aku juga suka karakternya Gabriel. Jadi pengen baca Daylight kan kalau kayak gini. Duuh. Aku juga suka dengan Sarah yang sangat perhatian dengan Kris. Sarah merupakan sahabat yang baik. Love her personality deh.

THE LAST LINE
True love doesn’t come to you. It has to be inside you.

The Conclusion
Heem. Apa ya bilangnya? Kayak aku biasa aja bacanya. I means, kalau dibaca waktu senggang boleh lah. Buat refreshing. Sayangnya, masih aja ada yang aneh dari cerita ini. Heuhue.

Bacaan ringan di waktu senggang? Bisa lah baca ini.


You Might Also Like

0 comments: