Donny Dhirgantoro,

2 by Donny Dhirgantoro | Book Review

Sunday, March 20, 2016 Puji P. Rahayu 0 Comments

2
Jangan meremehkan kekuatan seorang manusia, karena Tuhan sedikit pun tidak pernah!”—hlm. 124.

By Donny Dhirgantoro
2 of 5 stars

Penerbit                      : Grasindo
Tebal halaman           : 176 halaman
Tahun terbit               : Januari 2013, Cetakan kelima.
ISBN                           : 9789790815629


Harus berani bermimpi


Ini Bulutangkis, dan Ini Indonesia, di mana impian dibawa ke dunia nyata, tidak berlaku untuk Gusni Annisa Puspita, remaja yang “kelebihannya” adalah keterbatasannya. Cita-citanya sejak kecil untuk membuat orang tuanya senang dengan bermain bulutangkis terus kandas.

Suatu malam sebuah kenyataan pahit datang untuknya, sebuah kenyataan yang tak berperi, hidup yang tidak berpihak kepadanya, kenyataan yang berbicara lantang kalu bermimpi saja tidak akan pernah cukup.

Dan, perempuan Indonesia dengan segala keterbatasannya itu memutuskan untuk melawan, memutuskan untuk terus berjuang demi impiannya, memutuskan untuk terus mencintai hidup yang tidak pernah sempurna.

Memutuskan untuk berani mencintai, dan mencintai dengan berani…

REVIEW:
Membicarakan perwujudan mimpi tidak akan pernah ada habisnya. Sebuah kenyataan yang begitu pahit terkadang memberikan ketidakyakinan bagi seseorang untuk memperjuangkan mimpinya. Tapi tidak bagi Gusni Anisa Puspita. Seorang perempuan Indonesia yang punya sejuta mimpi di bulutangkis. Meskipun ia tahu, impiannya itu akan berat untuk diwujudkan karena keterbatasannya.

“Tantangannya besar sekali, Leh… tapi, kita harus yakin kita bisa, … nggak boleh salahkan keadaan.”—hlm. 32.

THE FIRST LINE
Jakarta, 27 Oktober 1986.

The Appearance:
Dari kavernya, aku sangat tertarik dan suka dengan kavernya. Desainnya sederhana dan pas di mataku. Judulnya pun sangat mengundang rasa penasaran bagi siapa pun yang melihatnya. Hanya tersemat angka 2 sebagai judul. Donny Dhirgantoro berhasil menarik perhatian pembaca dengan kaver yang sederhana itu.

The Summary:
Gusni Annisa Puspita merupakan adik kandung dari pemain bulutangkis ternama di Indonesia, Gita Annisa Srikandi. Semenjak lahir, Gusni diberikan anugerah tubuh yang sangat besar. Bisa dibilang bahwa besar tubuh Gusni di atas rata-rata bayi seusianya. Ternyata, tubuh Gusni yang besar ini menyimpan rahasia. Ada penyakit yang menghantui kesehatan Gusni dan tentunya penyakit ini belum ditemukan obatnya. Sejak tahu akan penyakitnya, Gusni mencoba untuk berjuang melawan penyakitnya dengan segala cara. Salah satunya adalah melalui bulutangkis. Dengan kondisi fisik yang tidak bisa dikatakan baik, Gusni melaju menjadi pemain bulutangkis handal bersama Tim Nasional Indonesia.

“Orang hidup itu harus punya cita-cita… kalau kamu gak punya cita-cita berarti kamu nggak hidup, kamu orang mati namanya…”—hlm. 71.

Selain membahas tentang mimpi Gusni, novel ini juga menceritakan persahabatan Gusni dengan kedua teman besarnya, Ani dan Nuni. Ketiga orang itu berhasil menggambarkan bagaimana seharusnya sahabat sejati itu ada. Lalu, novel ini juga menceritakan tentang kisah cinta antara Gusni dan Harry. Satu-satunya pria yang diizinkan Gusni untuk berada di sampingnya.

“…karena hanya seorang pengecut mengharapkan hidup yang sempurna…”—hlm. 229.

The Opinion
Sebenarnya, aku mendapatkan novel ini dari beli second-hand dari salah satu admin @NovelAddict_ alias Kak Jiha. Jadi, novel ini merupakan bentuk rekomendasi Kak Jiha agar aku pas belinya. Hehe.

Terbawa euforia 5 cm, tentunya aku penasaran dong dengan novel yang satu ini. Hem, tapi aku merasa agak sangsi juga sih. Waktu dulu aku membaca 5 cm, aku banyak protesnya. Haha. Aku berharap sih nggak akan terjadi kembali. Ternyata aku salah. *duh, maafkan aku ya, Mas Donny. Sepertinya aku memang nggak cocok dengan novelnya Mas Donny.

Image source: google.com, edited by me
Ada beberapa hal yang menurutku cukup ganggu dalam novel ini:
1. Typo dimana-mana. Iya. Banyak banget. Bahkan ada tuh yang EYD-nya tak pas. Huhu. Entah bagaimana ceritanya novel best seller ini banyak banget typo-nya. Mulai dari hal sederhana macam penggunaan ‘di’ sampai ada beberapa percakapan yang tanda petiknya kelupaan. In my opinion, ganggu banget :/
2. Dari awal aku membaca aku langsung ilfeel. Aku nggak tahu sih zaman dulu USG itu udah ada atau enggak. Masalahnya adalah, masak iya salah prediksi bayi kembar? Dan itu hanya gara-gara suara detak jantung? Bukannya mbah-mbah dukun beranak bisa tahu ya di dalem perut seorang ibu hanya ada satu bayi atau dua? Menurutku hal ini agak tidak rasional.
3. Aku kesel banget waktu baca Gita marah-marah ke Gusni. Kesannya aneh banget dia tetiba marah-marah nggak jelas gitu. Terkesan dipaksakan banget scenenya.
4. Proses jatuh cinta Harry dan Gusni kurang dieksplor. Kesannya ujug-ujug suka :/

Terlepas dari beberapa hal tersebut, aku masih bisa melihat usaha Donny untuk menekankan pentingnya bermimpi bagi semua orang. Terlepas dari kekurangan dan keterbatasan yang kita punya, semua orang berhak untuk memiliki mimpi. Aku salut sih dengan usaha Gusni yang mau berusaha untuk hidup.

“Certamen ergo sum. Aku berjuang maka aku ada.”—hlm. 415.

THE LAST LINE
Cintai hidupmu dengan berani, jangan menyerah dan jangan pernah berputus asa.

The Conclusion
Untuk kamu yang percaya akan kekuatan mimpi, boleh banget baca ini. Terlepas dari banyaknya missing link, bolehlah dibaca. But unfortunately this novel is not my cup of tea.


You Might Also Like

0 comments: