Gagasmedia,

Simple Lie by Nina Ardianti | Book Review

Friday, February 26, 2016 Puji P. Rahayu 0 Comments

Simple Lie

“Kalau lo berjalan dan lo menemukan dinding tinggi di hadapan lo dan lo nggak mungkin melewatinya dengan cara memanjat, apalagi menghancurkan, maka pilihlah jalan dengan cara mengitari dinding itu…”—Ilham Fernando Fauzi.

By Nina Ardianti
3 of 5 stars

Penerbit                      : Gagasmedia
Tebal halaman           : 274 halaman
Tahun terbit               : 2007
ISBN                           : 9789797800864


Just a simple lie. “Simple” lie.

source: ninaardianti.com
 a story about a girl who had a perfect life

Cantik, pintar, aktivis, populer, almost perfect di semua bidang, akademis maupun non-akademis. Digilai para cowok dan (diam-diam) dikagumi para cewek. Dan yang makin membuat dia dikagumi adalah karena sikapnya yang low profile, ramah ke semua orang, dan very down to earth.


a perfect mate
“Happy First Anniversary, Re…,” ujar Fedi pelan.
Rere terdiam sesaat. Speechless. Nggak bisa berkata apa-apa. Ia lalu menatap Fedi dengan mata yang berkaca-kaca. How can she forget this day? Fedi ingat. Bahkan melakukan ini semua untuk Rere.

til another unperfect one came into her life
“Emang nggak bisa ganti ban sendiri ya?”
“Ya nggak bisa laaaah…. Gue cuma bisa makenya doang. Urusan bener-benerin mah payah, huehehe....”
“Girls....” Ilham menatap Rere dengan pandangan mencela yang menyebalkan, “Trus apa yang akan lo lakukan seandainya gue nggak muncul dan menyelamatkan lo seperti pangeran di dongeng-dongeng?”

and changed her perfect life
“Gue nggak tau sampai kapan, Re,” jawabnya jujur.
“Tapi, kalau sampai titik di mana gue ngerasa bahwa batas waktu itu akan datang dan lo belum juga bisa memutuskan...”
Rere mengangkat wajahnya balas menatap Ilham yang sedang berbicara.
“... biar gue sendiri yang menentukan pilihan, Re....”

then everything is not as it seems

a novel about love:
find a desired one... without any doubt. 

REVIEW:
Bukannya apa-apa. Aku membaca novel ini sebagai bentuk kerinduan  akan tulisan pertama Nina Ardianti. Tulisan yang membuatku jatuh cinta pada tokoh-tokoh yang disajikan oleh Nina. Inilah pertama kalinya aku mengenal Ilham. Salah satu tokoh yang akan sering bersliweran di novel-novel Nina selanjutnya.

THE FIRST LINE
Mati gue telat deh nih…

The Appearance:
Melihat penampakan Simple Lie, aku suka dengan penggunaan desain warnanya. Warna merah yang diambil tidak begitu mencolok hingga membuat mataku menyipit. Lalu, desainnya juga minimalis. Membuatku penasaran waktu dulu membaca novel ini. Oh ya, ini bukan pertama kalinya aku membaca Simple Lie. aku melakukan baca ulang karena aku rindu dengan Rere-Fedi-Ilham.

The easiest kind of relationship is with ten thousand people. The hardest one is with one. Correction. The two.

The Summary:
Rere adalah seorang cewek yang bisa dibilang sempurna. Dia pintar, cantik, populer, rendah hati, dan sederet sifat baik melekat pada dirinya. Punya pacar yang sama-sama perfect, Fedi, seharusnya membuat Rere bahagia tujuh turunan dan akan tetap begitu adanya.

Sayangnya, terpilihnya Fedi sebagai PO Festival Jazz membuat hubungan Fedi dan Rere merenggang. Sangat renggang. Berkali-kali mereka sempat bertengkar karena masalah ini. Pada saat itulah, Ilham datang di hari-hari Rere yang muram. Kepribadian Ilham yang cukup berbeda jauh bila dibandingkan dengan Fedi, membuat hati Rere terketuk dan getaran cinta itu datang.

Ya Tuhan! I know it’s not right, but it’s still okay, isn’t it? Hope so.—Rere.

The Point of view, plot, and setting
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini merupakan sudut pandang orang ketiga. Mungkin karena gaya bahasa Nina lebih lepas bila memakai sudut pandang orang pertama, aku masih bisa merasakan ke’kagok’an Nina dalam mengolah cerita ini. Beberapa kali terjadi ketidaksinkronan cerita yang cukup membuatku mengerutkan dahi.

Secara alur, tentunya lebih berfokus pada kisah cinta segi tiga antara Fedi-Rere-Ilham. Benar-benar terfokus pada hal ini. Sesungguhnya, aku salut dengan usaha Nina yang membuatku terkaget-kaget setelah membaca bagian terakhir novel ini. Waktu pertama kali membaca novel ini, aku benar-benar sebal dengan Fedi. Ternyata, pihak bersalahnya bukanlah dia…

Ini bukan tentang siapa yang lebih baik dibandingkan siapa. Tapi, ini masalah perasaan. Kita memang bisa mengontrol perasaan. Tapi, tidak untuk beberapa hal dan beberapa kasus.

“Gue nggak mau berada dalam posisi sebagai pihak yang bersalah. Kalau gue bisa bikin dia ngerasa bersalah, kenapa harus gue yang berada di posisi itu?”—Rere.

Setting dari novel ini kebanyakan mengambil lokasi kampus sebagai main setting. Tentunya, kampus yang dimaksud adalah kampus UI.  Hadeuh. Dulu sebelum aku jadi bagian dari kampus ini, aku sudah sangat menyadari kalau Simple Lie ini memang mengambil setting di UI. Haha. Aku bisa membayangkan keseluruhan detail dari setting yang digambarkan. Selain kampus UI Depok, sering disebut juga lokasi-lokasi di Jakarta, seperti PIM, Tanjung Barat, Lebak Bulus, dan lainnya.

The Opinion
Menarik. Melihat semua kelakuan tokohnya, aku sampai bisa menyimpulkan adanya karma bagi Ilham. Haha. So please. Sila ke website Nina Ardianti dan kalian akan tahu karma seperti apa yang menimpa Ilham.


Hal yang membuat novel ini menarik adalah eksekusi akhirnya.  Aku benar-benar tidak menyangka bahwa rencana-rencana itu ada dan tersusun rapi. Ahh, aku nggak bisa membayangkan bagaimana perasaankua kalau aku berada di posisi Fedi :”

Mungkin, karena ini adalah karya pertama Nina Ardianti, masih banyak hal yang tidak dikupas secara mendalam oleh Nina. Tapi, melihat perkembangan tulisan Nina ke Restart maupun Fly to The Sky, aku yakin Nina sudah bertransformasi menjadi penulis yang lebih matang.

THE LAST LINE
Jadi tahu siapa yang
[nggak bisa]
tertawa paling akhir?

The Conclusion
Untuk bacaan ringan dan penasaran dengan Ilham Fernando Fauzy, you have to read this.


You Might Also Like

0 comments: