Adriana,

Twilight Memories (Kenangan Senja) by Maggie Shayne | Book Review

Saturday, July 05, 2014 Puji P. Rahayu 0 Comments

Twilight Memories (Kenangan Senja)

cuma ini yang bisa ditemu.
2 of 5 stars
Penulis: Maggie Shayne
Alih Bahasa: Adriana
Penerbit : Violet Books
ISBN: 9789790818347

Roland DC telah menolak cinta Rhiannon selama berabad-abad, membuangnya ke dalam kegelapan abadi, untuk eksis sendirian. Tetapi, saat ini Rolan yang ia cintai beserta anak laki-laki yang diasuh pria itu sedang berada dalam bahaya. Dan, tidak melakukan tindakan apa pun merupakan hal yang tidak mungkin bagi Rhiannon…

Menolak Rhiannon untuk menggunakan kekuatannya—kekuatan yang dibutuhkan Roland untuk melindungi anak asuhnya, namun menuruti hasratnya akan wanita itu adalah perbuatan seperti menusukkan pancang menembus jantung Rhiannon…persis seperti tindakan yang ingin dilakukan oleh manusia fana yang dendam kepada mereka semua…

Selama berabad-abad, kesepian itu telah menghantui mereka dari matahari terbenam hingga fajar.

Tetapi, sekarang, dari kegelapan itu bersinar cahaya kehidupan abadi…cinta abadi.

Review:

Ehm, ini paranormal romance. Tentang vampir-vampir gitu. Tapi berhubungnovel ini terbitan lama—aku aja nggak percaya tahun terbit aslinya—jadi di sini karakter vampirnya beda.

Si vampir di sini itu nggak tahan sama matahari. Langsung gosong gitu kalau semisal kena. Terus, semakin tua si vampir, semakin sensitif pula tubuhnya. Sensitif sama rasa sakit, api, matahari, dan sebagainya. Dan si vampir bisa berdarah kalau terluka. Ampun deh. Kebiasaan baca vampir yang kuat jadi cengo baca yang ini.

Rhiannon mempunyai ketertarikan yang kuat pada Roland. Tapi Roland menghindari Rhiannon habis-habisan. Apalagi, nyawa anak asuh Roland sedang dalam bahaya. Hal ini membuatnya terpaksa semakin menjauhi Rhiannon. Padahal, sebenarnya Roland samasekali tidak ingin kehilangan Rhiannon.

Cheesy ya? Oke, aku agak bosan waktu baca novel ini. Selain fakta bahwa vampirnya nggak kece dan nggak ada tokoh yang nyantol di aku—kecuali Pandora, dia kayaknya lucu—aku jadi makin males bacanya. Apalagi, tulisannya imut-imut kayak semut dan tebelnya amit-amit. Aku heran, kenapa juga aku nyomot buku ini.

Capek sih bacanya, tapi seru aja kalau dibuat bacaan santai. Tapi gemes banget sama Roland. Udah deh, kalau suka itu ngomong aja. Nggak usah sok nggak mau gitu. Pegel tahu ngelihatnya.

Aku nggak terlalu ngerti sih sama musuhnya di sini—efek langsung baca buku kedua. Aku ngerasa ada bagian yang nggak jelas di novel ini. Kayak, kehidupannya Rhiannon waktu ditawan sama DPI itu gimana. Terus, kehidupannya Roland yang menyesali diri sendiri berkesan lebay banget ya.

Ehm, bagus sih. Tapi Cuma buat bacaan santai. Nggak perlu ngulang lagi. Capek bacanya.


You Might Also Like

0 comments: