Review: Charlie and The Chocolate Factory - Roald Dahl


Charlie and the Chocolate Factory
"Oh, how he loved that smell! And oh, how he wished he could go inside the factory and see what it was like!"

by Roald Dahl

4 of 5 stars


image credit: goodreads.com
Title: Charlie and the Chocolate Factory
Author: Roald Dahl
Genre: Fantasy, children book
Series: Charlie Bucket #1
Illustrator: Quentin Blake
Publisher: Puffin Books, Penguin Group
ISBN: 978-0-141-96061-6
Year of publish: 2010
Number of pages: 271

Willy Wonka's famous chocolate factory is opening at last!

But only five lucky children will be allowed inside. And the winners are: Augustus Gloop, an enormously fat boy whose hobby is eating; Veruca Salt, a spoiled-rotten brat whose parents are wrapped around her little finger; Violet Beauregarde, a dim-witted gum-chewer with the fastest jaws around; Mike Teavee, a toy pistol-toting gangster-in-training who is obsessed with television; and Charlie Bucket, Our Hero, a boy who is honest and kind, brave and true, and good and ready for the wildest time of his life!

More info:

Like I said before, children book was a kind of book that I like the most. The reason was, because children book was a type of light reading, and no need more effort to finish it. Well, actually, Roald Dahl's book have been on my reading list since.. I didn't know.. maybe one year ago? Sadly, I didn't have much chance to read it but now. I found this epub at one of telegram channel that I subscribed. Then, I felt lucky cause finally I can read it.

"You never know, darling. It's your birthday next week. You have as much chance as anybody else."
-- Grandma Georgina
So, if you read about Charlie and the Chocolate Factory, I won't blame you if you did comparison with the movie. Yeah, you will picture Johny Depp as Willy Wonka. To be honest, I did that too when I read this book.

Just like at the movie, the story began when Willy Wonka decided to open his factory for five lucky children who got golden ticket on their chocolate bar. Charlie is a boy from a very poor family. Buying chocolate was something that really precious for Charlie, because he could only get it once per year, and it's on his birthday. Everyone, start from Charlie then his parent and grand parents, hope that Charlie could get the chance to enter Wonka's Chocolate Factory. So, even though they can't expect too much from one chocolate bar, all of them wish Charlie could get that golden ticket. Long story short, after so many drama here and there, finally Charlie can get that golden ticket. Yeay!

"He spoils her. And no good can ever come from spoiling a child like that, Charlie, you mark my words."
-- Grandpa Joe.
How about the other four? Okay.. Let's see.. when I read this book, I don't know why but I was starting remember the seven deadly sins. There's Augustus Gloop who's really like to eat. Like there's no tomorrow if he can't eat now. So, yeah, I think Augustus stands for gluttony. Next, Veruca Salt. Veruca is a type of girl who want anything. Because her parent spoiled her so much, Veruca thought that he can get anything she want. That's why, her attitude makes me remember about the greed sin. Then, there's Violet Beauregarde. I thought, Violet stands for pride because she was really enjoying showing off her talent--event the disgusting one. The last, a boy who's named Mike Teeves. He really like watching television and I thought he was part of sloth sin. Okay, I know that it shouldn't be like that. But, I just remember about that sin when I read it.
"Are the Oompa-Loompas really joking, Grandpa?"
"Of course they're joking. They
must be joking. At least, I hope they're joking. Don't you?"
-- Charlie and Grandpa Joe
In my opinion, children book is a simple story that can give you many moral values. Road Dahl was succeed bring many moral values with the story of Charlie. Then, if you asked about the movie adaptation, hmm, it wasn't much different actually. But, maybe there was some differences here and there. But so far, I enjoyed reading this book. Moreover, the illustration from Quentin Blake was match with the story. I like it.
"How can they see where they're going?"
"There's no knowing where they're going!"
-- Violet Beauregarde and Mr. Willy Wonka
So, if you wanna have some nostalgic memory about your childhood, Charlie and the Chocolate Factory could be your choice. 

4 stars for Charlie :)

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Resensi: Love Theft - Prisca Primasari


Love Theft
"Saya harus pulang. Bukankah itu tujuan kita pergi? Untuk pulang." -- Night.

oleh Prisca Primasari

4 dari 5 bintang

sumber gambar: goodreads.com
Judul: Love Theft
Penulis: Prisca Primasari
Genre: Roman
Penyunting: Nur Aini, Elly Putri Andini, Adelaine
Penyelaras Akhir: Seplia
Desainer Sampul: Diwasandhi
Penata Sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Inari
Tahun Terbit: September 2017
Tebal Buku: 406 halaman
ISBN: 978-602-xxxx-20-4
Baca via Gramedia Digital


Frea Rinata memutuskan untuk cuti dari kuliah musik dan mengistirahatkan biola Stadivarius-nya. 
Untunglah dia punya kehidupan kedua yang lebih menarik, melibatkan seorang pemuda yang dipanggil ‘Liquor’, yang dicintai Frea tanpa sadar. Pemuda itu tergabung dalam perkumpulan pencuri, tapi yang dia curi bukan benda-benda biasa. 
Saat Liquor mencuri sebuah kalung mewah milik seorang gadis terkenal, masalah demi masalah pun terjadi. 
Ketika keadaan semakin runyam, apakah Frea masih berpikir bahwa kehidupan keduanya bersama Liquor ini semenarik yang dia pikirkan?


Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Rasa-rasanya, saya sudah lama tidak membaca novel karangan Prisca Primasari. Iya, saya memang baru saja membaca Purple Eyes beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, saya merasa sudah lama sekali tidak membaca cerita Prisca versi panjang. Love Theft merupakan novel Prisca yang awalnya diterbitkan secara mandiri dan terdiri dari dua bagian. Baru kemudian, novel ini diterbitkan ulang menjadi satu buku utuh oleh Penerbit Inari.

Dan hati yang hancur terkadang mengobati diri dengan asal-asalan.
-- Kate DiCamillo dalam Love Theft.
Novel ini menceritakan Frea, seorang mahasiswi sekolah musik yang memutuskan untuk mengambil cuti. Bukan karena apa-apa, hanya saja, Frea merasa kemampuannya di kampus tidak begitu baik. Bahkan, beberapa kali audisi yang ia ikuti, selalu berujung pada kegagalan. Setidanknya, Frea ingin menjauh sebentar dari dunia musik dan lebih tertarik untuk hidup di dunia keduanya. Hidupnya di malah hari yang melibatkan Liquor dan Night.

"Orang nggak bisa selamanya hidup sendirian. Kita selalu butuh tempat untuk bercerita."-- Frea.

Liquor dan Night adalah pencuri yang tergabung dalam organisasi Anthropods. Katanya sih, organisasi tersebut adalah organisasi yang memiliki jiwa Robin Hood. Dalam artian, hasil yang didapatkan dari mencuri akan digunakan untuk beramal. Lalu, mengapa Frea bisa terlibat dalam organisasi tersebut? Karena Anthropods adalah organisasi yang dimiliki oleh paman Frea. Maka dari itu, Frea bisa mengenal Liquor dan Night.

"Saya penjahat. Suatu saat nanti, saya akan jatuh. Saya pasti jatuh. Dan kamu akan pergi. Jadi lebih baik saya menanggungnya sendirian."
--Liquor
Night adalah sosok yang sangat tenang dan juga baik. Mungkin, kalau Night belum menikah, Frea akan menjadikan Night sebagai laki-laki yang ingin ia pacari. Sedangkan Liquor, sikapnya bisa dibilang seratus delapan puluh derajat dari Liquor. Liquor cenderung lebih dingin dan juga tidak mudah digapai. Meskipun demikian, keduanya adalah orang-orang andalan di Anthropods. Hal itulah yang membuat Frea kadang terlibat dalam misi pencurian yang tidak terduga.

"Hidup ini... untuk apa, Frea?"
"Untuk bahagia dan membahagiakan orang lain. Setidaknya menurut saya."
"Kalau kita tidak bisa melakukan dua-duanya?"
"Pasti bisa."
"Kalau tidak bisa?"
"Pasti bisa."
-- Liquor dan Frea.
Suatu ketika, Night memutuskan untuk kembali ke Jepang dan meminta Liquor untuk mengambil pekerjaan yang dilimpahkan padanya. Awalnya Liquor sempat menolak, akan tetapi akhirnya Liquor menjalankannya. Yakni, mengambil kalung Tiffany & Co milik Coco Kartikaningtyas, seorang perempuan sosialitas yang cukup terkenal. Misi tersebut memang berhasil sih, akan tetapi... ternyata Coco tidak tinggal diam saja. Coco melakukan berbagai macam hal untuk bisa menyudutkan Liquor. Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapakah sebenarnya Coco ini? Yang pasti, apapun itu, hubungan Liquor dan Frea menjadi terancam. 

"Frea."
"Ya?"
"Di sini saja. Jangan pergi."
"Berapa kali saya harus bilang. Saya tidak akan pernah pergi."
-- Liquor dan Frea.

sumber gambar: google.com, disunting oleh saya
Jujur saja, setelah berbagai macam hal yang harus saya kerjakan, membaca novel yang ringan seperti Love Theft ini menajdi hiburan tersendiri bagi saya. Bahkan, saya cenderung senyum-senyum sendiri saat membacanya. Hubungan Liquor dan Frea dalam novel ini terasa manis. Awalnya saling menyangkal satu sama lain, tapi toh pada akhirnya mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat terpisahkan.

"Halo?"
[Kenapa tidak pernah datang lagi?]
"Saya sibuk, banyak tugas. Sudah sarapan?"
[Belum.]
"Terus kalau saya nggak datang dan beliin sarapan kamu nggak makan, gitu?"
-- Frea dan Liquor
Awalnya, saya sudah sebal setengah mati dengan sikap Coco. Penggambarannya sebagai cewek yang menyebalkan itu mengena sekali. Saya sampai malas ketika membaca percakapan Coco. Dia ini, tipikal cewek yang harus dituruti kemauannya. Tentunya, sangat menyebalkan. Di akhir cerita, saya cukup takjub dengan terbongkarnya identitas Coco yang asli. Saya tidak menyangka akan berujung ke sana.

Senyum paling menyakitkan adalah senyum penuh kepedihan.
Kalau ditanya, saya menyukai novel ini dari luar dan dalamnya. Sampul dalam novel ini begitu manis dan tentunya, ceritanya pun juga manis. Saya suka dengan interaksia antara Liquor dan Frea di dalamnya. Bagi saya, manisnya mereka ini pas dan tidak berlebihan. Kalau saya ditanya siapa tokoh favorit saya, maka saya akan memilih Liquor. Saya tahu kok, pasti ada alasan yang lebih besar ketika Liquor menjadi sosok yang menutup diri dan seolah-olah tidak mau digapai.

"Masa lalu saya... Apa kamu bisa menerimanya?"
"Kamu pikir saya serendah itu, mau meninggalkan kamu cuma karena masa lalu kamu? Kalau kamu memang mencintai saya, percayalah pada saya."
"Jangan tinggalkan saya."
"Berapa kali saya bilang, Saya tidak akan pernah pergi."
--Liquor dan Frea.
Baiklah, pada intinya, novel ini cukup untuk dijadikan bacaan hangat di kala senggang. Tidak perlu banyak emosi yang dikeluarkan yang pasti. Tipikal novel yang manis dan membuatmu lelah.

"Saya nggak bisa masak."
"Saya tahu."
"Kamu bisa?"
Dia menggeleng.
"Tapi waktu Night sakit kapan hari..."
"Cuma bisa memasak bubur. Saya dulu sering membuat bubur sendiri kalau sakit."
-- Frea dan Liquor
4 bintang untuk hubungan Liquor dan Frea.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Resensi: Purple Eyes - Prisca Primasari


Purple Eyes

oleh Prisca Primasari

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul: Purple Eyes
Penulis: Prisca Primasari
Genre: Fantasi, Roman
Penerbit: Penerbit Inari
Tahun Terbit: 2016
Tebal buku: 144 halaman
ISBN: 9786027432208
Baca via Gramedia Digital

Informasi lebih lanjut dapat dibaca di:

Entah mengapa, saya tiba-tiba saja tertarik untuk membaca Purple Eyes. Mungkin karena Prisca Primasari adalah salah satu penulis yang begitu familiar bagi saya. Lalu, premis yang dijanjikan dalam Purple Eyes cukup membuat saya tergugah. Well, siapa yang tidak penasaran dengan kisah yang melibatkan dua manusia yang berbeda dunia?

Lyre adalah asisten dari Hades. Iya, tidak perlu terkejut. Hades sang Dewa Kematian dalam mitologi Yunani. Jangan membayangkan Hades selalu berupa buruk dan tidak enak dilihat. Hades dalam kisah ini sungguh rupawan dan tidak begitu menakutkan. Memang tugas dari sang Dewa masih tetap sama, memutuskan kematian bagi para manusia, akan tetapi, pada dasarnya, yang memutuskan untuk mati adalah manusia itu sendiri.

Selama hampir 120 tahun, Lyre menjadi asisten Hades yang paling setia. Pekerjaan Lyre adalah mengantar setiap manusia yang berada di ambang kematian untuk menemui Hades. Hades pun memberikan pilihan bagi manusia tersebut untuk tetap hidup atau mati. Kebanyakan, manusia yang sudah berada di hadapan Hades memilih untuk mati.

Terkadang, sangat mebosankan menjalani kegiatan yang sama berulang-ulang. Sampai akhirnya, Hades ditugaskan untuk turun ke bumi karena ada kasus pembunuhan berantai yang dapat dibilang "merepotkan". Di saat-saat seperti inilah, Hades harus bertindak sebagai Dewa Kematian. Hades pun mengajak Lyre untuk turun bersamanya. Selama penyamaran mereka, Lyre memilih menggunakan nama Solveig dan Hades memakai nama Halstein.

Ketika turun ke bumi itulah, Solveig bertemu dengan Ivarr Amundsen, kakak dari salah satu korban pembunuhan berantai yang terjadi di Norwegia. Ivarr adalah sosok yang dapat dibilang mati rasa. Tidak air mata maupun emosi yang hadir saat adiknya tiada. Akan tetapi, selama Solveig berada di bumi, Halstein memberikan perintah pada Solveig supaya emosi itu muncul kembali dalam diri Ivarr Maka dari itu, Solveig pun sering menemui Ivarr dan... secara tidak langsung mulai membangkitkan emosi Ivarr yang terkubur dalam. Lalu, apa rencana Halstein yang sesungguhnya? Bagaimana, kalau dalam tugas yang tiba-tiba ini, Solveig jatuh cinta pada Ivarr?

"Jangan jatuh cinta padanya. Sebaliknya, buat dia jatuh cinta kepadamu." -- Ivarr.

Rasanya, sudah lama saya mengalami reading slumps. Ya, kira-kira, beberapa bulan ini saya rasanya tidak mampu membaca bacaan ringan sekalipun. Saya benar-benar tidak mampu. Terdengar berlebihan? Mungkin benar. Yang pasti, saya baru bisa mulai membaca beberapa hari ini. Memilih Purple Eyes sebagai bacaan pertama saya setelah reading slumps yang saya alami memang tidak salah. Saya meyukai kisah manis sederhana yang tidak terlalu muluk. Meskipun sederhana, saya menyukai keistimewaan yang terselip di dalamnya.

Awalnya, saya tidak tahu sama sekali kalau Purple Eyes merupakan novel fantasi. Baiklah. Saya hanya tertarik karena novel ini ditulis oleh Prisca. Selebihnya, saya tidak tahu apapun mengenai novel ini. Barulah ketika saya memilah unduhan-unduhan saya di Gramedia Digital, saya baru menyadari bahwa premis yang ditwarkan oleh novel ini begitu menarik. Seorang asisten Dewa Kematian jatuh cinta kepada manusia biasa. Dua orang yang berbeda dunia, saling jatuh cinta. Mengapa mereka bisa jatuh cinta? Lalu, bagaimana akhir dari kisah mereka?

Sesuai dugaan saya, tulisan dari Prisca begitu manis dan menyentuh. Oh, ya, saya tahu, novel ini lebih pantas apabila disebut dengan novellete. Sama seperti French Pink, premis yang diajukan juga sederhana. Novel yang tak lebih dari 150 halaman ini, cukup membuat saya tersenyum manis saat membacanya. Tidak membosankan. Bahkan, saya dibuat bertanya-tanya, apa sebenarnya yang direncanakan oleh Halstein kepada Ivarr. Saya cukup menyukai proses jatuh cinta antara Solveig dan Ivarr. Meskipun, harus saya akui, saya merasakan sedikit kekosongan di antara mereka.

Sampul dari novel ini mungkin terlihat sedikit... tidak menarik. Entahlah. Saya merasa sampul dari novel ini kurang hidup. Akan tetapi, mungkin itu hanya preferensi saya. Saya mengharapkan ada ilustrasi yang lebih hidup untuk novel ini. Seingat saya, sampul yang dikeluarkan oleh Penerbit Inari lainnya cukup hidup. Sebagai contoh, Love Theft--yang akan saya ulas di postingan selanjutnya. Alangkah baiknya apabila novel ini cetak ulang, akan ada elemen lain yang ditambahkan pada sampulnya.

Bagi saya, Purple Eyes merupakan novel yang tepat untuk dijadikan bacaan ringan. Setidaknya, ditemani kudapan manis dan teh atau cokelat hangat, membaca novel ini bisa menjadi media untuk bersantai,

4 bintang untuk Ivarr Amundsen yang mengesankan.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Resensi: Dua Dunia - Luna Torashyngu


Dua Dunia

oleh Luna Torashyngu

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul: Dua Dunia
Penulis: Luna Torayngu
Genre: Young Adult
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 368 halaman
ISBN: 9786020380384
Baca via Gramedia Digital

Ren dan Kya adalah dua sahabat yang tidak terpisahkan sejak pertama kali masuk SMA 321 hingga sekarang di kelas XI. Ren berpenampilan kalem, pakai kacamata, dan rambut disisir asal saja. Cowok itu irit bicara. Berbeda 180 derajat dengan Kya yang tomboy, suka bicara seenaknya, berani, dan jago karate. Namun, dua kepribadian yang bertolak belakang itu saling melengkapi.

Ren tinggal bersama pamannya, Paman Bagas, yang merawatnya sejak bayi, tepatnya setelah kedua orangtua Ren tewas karena kecelakaan. Setidaknya itulah yang selalu didengar dan diketahui Ren mengenai orangtuanya selama tujuh belas tahu, sebelum sebuah peristiwa dan hadirnya orang-orang asing yang tidak dikenal Ren membuaka jari diri Ren yang sebenarnya… 

Info lengkap dapat dibaca di:

Tiga bulan berlalu sejak saya terakhir kali mem-posting di blog ini. Bukan, kok. Bukannya saya akan berhenti menjadi seorang bloger buku. Sama sekali bukan. Hanya saya, tiga bulan terakhir ini merupakan masa-masa saat saya mengalami reading slumps yang tidak tertahankan. Ketika saya mencoba membaca buku ringan, saya sama sekali tidak tertarik dan akhirnya menyerah. Kalau membaca saja saya tidak mampu, bagaimana mungkin saya bisa menuliskan resensi dari buku yang "rencananya" akan saya baca?

Akan tetapi, harus saya akui, buku ini sudah saya baca sejak dua bulan lalu. Saya sudah membuat draft resensi dari buku ini di cloud telegram saya. Hanya saja, saya baru berkesempatan untuk mem-posting-nya sekarang. Terlambat memang, tapi saya hanya berharap, dengan demikian, semangat saya untuk menulis kembali di blog akan muncul kembali.

Kapan hari, teman saya tiba-tiba saja bertanya kepada saya, "bagaimana kabar blogmu? sering posting?" Well, saya hanya bisa tersenyum getir. Bahkan, membuka laman blogger.com saja tidak saya lakukan. Baiklah, saya membukanya. Tapi, tidak satupun tulisan yang saya hasilkan. Maka dari itu, kali ini, saya terpikir untuk menulis lagi. 

Sudah-sudah. Rasanya prolog saya sudah terlalu panjang. Berikut merupakan resensi untuk salah satu karangan dari Luna Torashyngu. Harus saya akui, Kak Luna adalah salah satu penulis favorit saya. Pertama kali saya membaca novel Kak Luna ketika saya duduk di kelas tujuh SMP. Sudah lama sekali memang. Tapi, saya tetap menyukai gaya bercerita dari Kak Luna. Dua Dunia merupakan satu dari sekian novel Kak Luna yang menurut saya patut untuk dibaca.

***

Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu tahu kenyataan bahwa kamu bukan manusia bumi biasa? Melainkan, salah satu keturunan manusia dari dimensi lain yang punya kemampuan untuk mengeluarkan energi tenaga dalam?

Ren adalah seorang remaja biasa yang terkenal biasa-biasa saja. Tidak punya kemampuan fisik yang luar biasa dan tinggal bersama pamannya, Bagas, karena kedua orang tuanya telah meninggal ketika dia masih kecil. Nyatanya, Ren tidak menduga bahwa dirinya adalah seorang pewaris tunggal Worthwood Inc., sebuah perusahaan multinasional yang berpusat di Inggris. Tidak cukup hanya itu, ternyata, Ren adalah seorang gnome, campuran dari manusia bumi dengan manusia Terra. Menurut ramalan, Ren ditakdirkan untuk mengalahkan Axion, penyihir Terra yang dendam terhadap Efra, ayah Ren.

Di kehidupan remajanya itu, Ren juga memiliki sahabat. Dia adalah Kya, seorang cewek tomboi yang sangat berbakat dalam bela diri. Kya adalah sesosok sahabat yang selalu bisa Ren andalkan kapanpun dan di manapun.

Kehadiran Dilla, teman semasa kecil Kya, membuat persahabatan Kya dan Ren merenggang. Ren menjalin hubungan dengan Dilla dan keduanya saling mencintai. Pada dasarnya, Kya sangat menghargai hubungan Dilla dan Ren. Sayangnya, dia merasa aneh dengan sikap Ren yang perlahan mulai berubah.

Kemudian, kejadian putusnya Dilla dan Ren yang secara tiba-tiba, serta kehadiran para anak buah Axion di muka bumi, membuat persahabatan Ren dan Kya kembali erat. Bahkan, keduanya pun bertekad supaya bisa menyelamatkan Dilla dari cengkeraman Axion. Apakah Ren Dan Kya berhasil mengalahkan penyihir jahat tersebut dan membawa kedamaian di bumi? Simak lebih lanjut cerita di novel terbaru Luna Torashyngu ini.

***

Sejak saya masih duduk di bangku SMP, Luna Torashyngu telah menjadi salah satu penulis favorit saya. Cara Kak Luna bercerita serta kisah yang disajikan membuat saya mudah jatuh hati. Bermula dari kisah pembunuh bayaran, Rachel, hacker berbakat, Muri, dan juga genoid, Fika, membuat saya benar-benar menikmati seluruh karya Kak Luna. Oh, saya juga tidak akan melupakan Angel's Heart, kisah tentang Angel dan Rivi yang membuat saya menangis pertama kali saat membaca novel.

Awalnya, saya sedikit tidak tertarik untuk menbaca novel ini. Apalagi, dari sampulnya yang menurut saya kurang mengundang. Kalau saja saya tidak mengenal karakteristik novel Kak Luna, mungkin saya akan mengurungkan niat untuk mengunduh novel ini di Gramedia Digital. Ternyata, keputusan saya untuk mengunduh novel ini tidak salah. Lagi-lagi saya terhibur dengan kisah yang disajikan oleh Kak Luna.

Well, semakin ke sini, semakin banyak keterkaitan dari semua tokoh karya Kak Luna. Saya cukup kagum dengan Cara Kak Luna menyambungkan seluruh kisah mereka. 

Cukup berbeda dengan karya-karyanya yang lain, Dua Dunia mengambil setting bumi dan juga dunia paralelnya, yakni Terra. Kalau di karya lainnya akan terasa sangat masuk akal dan modernis, maka di Dua Dunia, kita akan diajak kembali untuk merasakan dunia sihir dan kekuatan tenaga dalam. Agak tidak biasa menurut saya. Apalagi, dalam kisah-kisah sebelumnya, Kak Luna selalu menggambarkan tokohnya yang menggunakan berbagai macam teknologi modern dan terkini. Jadi, ketika membaca novel ini di awal, saya cukup mengernyitkan dahi karena tenaga dalam dan kekuatan sihir disebut-sebut.

Kalau saya ditanya siapa tokoh favorit saya dalam novel ini, mungkin saya akan memilih Kya. Iya. Saya suka gaya Kya yang tetap perhatian pada temannya. Meskipun kalau ditanya saya malah lebih penasaran dengan Kyu, saudara kembar Kya. Mungkinkah di sekuel selanjutnya, Kyu akan muncul kembali dan memiliki peran yang lebih besar? Mungkin saja.

Nah, jadi buat kalian yang menginginkam bacaan yang cukup menantang tapi tetap khas teenlit, maka Dua Dunia bisa menjadi pilihan untuk kalian.

3 bintang untuk persahabatan Ren dan Kya.

Sincerely,
Puji P. Rahayu

Resensi: Tahun Terakhir Dena - Purba Sitorus


Tahun Terakhir Dena

oleh Purba Sitorus

3 dari 5 bintang

Image credit: goodreads.com
Judul buku: Tahun Terakhir Dena
Penulis: Purba Sitorus
Penyunting: Muhajjah Saratini
Penyelaras akhir: RaiN
Tata sampul: Amalina Asrari
Tata isi: Violetta
Pracetak: Wardi
Penerbit: Laksan
Tahun terbit: 2018
Tebal buku: 204 halaman
Buntelan dari penulis


Tahun depan. Tahun depan mimpi Dena harus terwujud. Ini tahun terakhirnya jadi siswa di SMU Harapan. Dena ingin beasiswa ke luar negeri, meninggalkan neraka ini.

Waktu gurunya bilang nilai sempurna saja tidak cukup, Dena kebat-kebit. Demi rekomendasi dari gurunya, dia rela melakukan apa saja. Termasuk mengajari Adit agar nilai matematikanya membaik.

Adit! Cowok bandel, tajir, dan suka bikin repot. Tapi ternyata kok seru juga bergaul dengan mereka. Dunia Dena jungkir balik. Untuk pertama kalinya, Dena tidak yakin dengan pilihan hidupnya. 

Begitulah tahun terakhir Dena berlangsung. Tahun terakhir yang membuatnya memandang masa SMA dari sisi yang berbeda.

Sekali ini saja, aku tidak ingin jadi Dena yang biasanya


Info lengkap dapat dibaca di:

Bagi Dena, menjalani kehidupan di SMU Harapan tidaklah mudah. Status dirinya sebagai penerima beasiswa membuat Dena harus berusaha sebaik mungkin untuk meraih impiannya. Ada banyak diskriminasi yang tercipta antara siswa biasa dengan siswa penerima beasiswa. Mulai dari perhatian guru yang berat sebelah, hingga cara bergaul dari kedua kubu itu yang sungguh berbeda. 

Awalnya, Dena menerima nasibnya. Ia berusaha sebaik mungkin di sekolah karena ia memiliki tujuan tersendiri. Bagaimanapun, Dena bertekad untuk segera kabur dari rumah. Akan tetapi, program tentir yang digagas oleh gurunya membuat Dena terjebak dan harus berurusan dengan Adit. Belum lagi, Aurel, salah satu teman segang Adit, punya kemauan tersendiri terhadap Dena. Pokoknya, tahun terakhir Dena jadih lebih runyam. Kira-kira, apa sih yang akan dilakukan Dena? Lalu, ada masalah apa sebenarnya yang membuat Dena ingin cepat-cepat sekolah di luar negeri? Yuk, dibaca.

Well, membaca novel yang ringan seperti Tahun Terakhir Dena ini membuat saya setidaknya dapat enjoy. Bagaimanapun, sebelumnya saya mengalami reading slump cukup parah dan berakhir saya tidak dapat membaca bacaan apapun. Maka dari itu, ketika ada tawaran untuk membaca dan mengulas novel yang hmm, let's say bergenre teenlit, saya pun bersemangat. Thanks God! I got the copy! 

Image credit: pinterest, edited by me
Bagi saya, membaca Tahun Terakhir Dena mengingatkan saya pada masa-masa SMA. Ketika yang kemudian dipikirkan hanyalah bagaimana mencapai nilai bagus tanpa hambatan. Berprestasi sebaik-baiknya. Nah, kalau soal diskriminasi antara murid beasiswa dan biasa, hmm, to be honest I quite agree. Akan tetapi, to some extend, kok kayaknya di sini agak too much ya penggambarannya. Atau sayanya aja yang sensitif? Bisa jadi.

Untuk ceritanya sendiri, saya akui cukup kompleks. Bagaimanapun, kisah Dena di sini bukan sekadar tentang pencapaian prestasi di sekolah. Ada kisah bagaimana kehidupan keluarga Dena yang ternyata baik-baik saja dan ada pula kisah cinta remaja unyu-unyu di sini. Pada intinya, kalau saya sih melihatnya, Kak Purba Sitorus ingin memperlihatkan bahwa di usia Dena saja, seseorang bisa menemui berbagai macam permasalahan. Bukan sekadar tentang cinta monyet atau masalah prestasi di sekolah, but beyond than that. Menurut saya, banyak juga pesan yang disampaikan dalam kisah ini. 

Untuk kavernya sendiri, sebenernya saya suka sama warnanya. Lumayan cute kalau dilihat. Tapi... kok gambarnya rame banget, ya? :" Hmm. Judulnya pun agak nggak telrihat karena efek warna dan tagline-nya. Yaa, semoga kalau misalkan novel ini bisa cetak ulang, sekalian rilis kaver baru. Eheheh.

Baiklah. Sekian dari saya. Menurut saya, novel ini cocok untuk dibaca kamu yang merasa berjiwa muda. Haha. Untuk sekadar nostalgia zaman SMA, boleh lah.

3 bintang untuk Aurel--saya suka gayanyanya dia. Hoho.

Sincerely,
Puji P. Rahayu